Cara Jitu Menarik Viewers, Merasa Diri Dikenal Banyak Orang

Bahaya Normalisasi, Ketika yang Haram Dihalalkan dan Identitas Bangsa Tergerus
 
Fenomena normalisasi membuat yang haram jadi biasa dan yang salah jadi benar. Lihat bagaimana baju minim dan ketat menjadi tren demi konten viral, memanfaatkan nafsu demi view.
 
 
Normalisasi ibaratnya itu halal diharamkan dan haram dihalalkan cuma dibikin kata "normalisasi" agar tidak terlalu merasa berdosa lah. Seolah-olah dengan menyebutnya istilah itu, dosa menjadi berkurang, atau kesalahan menjadi sesuatu yang bisa diterima akal sehat. Padahal aslinya tetaplah salah, tetaplah buruk, dan tetaplah menyimpang dari jalan yang lurus. Hanya saja, karena dilakukan terus-menerus dan dilakukan oleh banyak orang, lama-lama masyarakat jadi berpikir bahwa itu adalah hal yang wajar, padahal itu merusak akhlak dan pandangan hidup. 
Sungguh, dampak dari pemikiran ini sangatlah luas. Terutama disaat sekarang ini, dimana trend yang sedang terjadi adalah penggunaan baju mini, maksudnya itu baju yang kecil dan ketat. Sangat menyedihkan melihat bagaimana ketika suatu momen, bagian tubuh yang seharusnya ditutup rapat justru bisa kelihatan, baik karena terlalu pendek, terlalu menerawang, atau terlalu sempit. Ini bukan lagi soal mengikuti mode, tapi ini soal kehilangan batas antara yang privat dan yang publik. 
Hilang betul identitas bangsa ini yang terkenal sopan santun dan menjaga aurat. Semuanya tergerus habis oleh arus konten viral di media sosial. Seolah-olah standar kecantikan dan kesuksesan itu diukur dari seberapa berani seseorang menampilkan tubuh, bukan seberapa cerdas otak atau seberapa baik akhlaknya. Demi memaksakan agar kontennya viral dan laku dipasaran, yah pakai cara itu. Pakai baju minim atau ketat yang memancing mata yang melihat. 
 
 
Cara Meraih Viewer Memanfaatkan Nafsu Laki-laki
Kalau ditanya bagaimana cara meraih viewer yang banyak dan cepat? Jawaban yang sering dipakai sekarang ini adalah dengan memanfaatkan nafsu laki-laki. Ini adalah cara yang paling instan dan paling "ampuh" di mata mereka yang hanya mengejar angka dan popularitas sesaat. Karena memang fitrahnya mata laki-laki itu mudah tergelincir melihat bentuk tubuh, maka dimanfaatkanlah kelemahan itu sebagai ladang uang. 
Mereka tahu persis tombol mana yang harus ditekan. Pose yang menggoda, gerakan yang sensual, dan pakaian yang minim menjadi formula utama. Tidak perlu skill yang hebat, tidak perlu konten yang bermanfaat, yang penting "menjual mata". Dan ironisnya, cara ini memang berhasil. Like, komentar, dan share berdatangan dengan deras. Tapi pertanyaannya, sampai kapan? Dan apa harga yang harus dibayar? 
"Popularitas yang dibangun di atas nafsu, ibarat istana yang dibangun di atas pasir. Indah dilihat, tapi tidak akan pernah kuat menahan badai." 
Saya kira itu sudah menjadi rahasia umum dan menjadi "meta" atau standar baru dikalangan wanita-wanita konten kreator zaman sekarang. Walaupun jujur saya akui, masih ada beberapa orang yang betul-betul menjual skill yang positif, yang menampilkan bakat, kecerdasan, dan karya nyata tanpa harus menjual harga diri. Mereka inilah yang sebenarnya layak diapresiasi. Tapi sayangnya, jumlah mereka yang positif itu kalah jauh dibandingkan mereka yang memilih jalan instan. 
 
 
Ego Tinggi dan Gaya Pamer
Bila kita tarik benangnya hingga ke ujung, maka yang muncul adalah fakta bahwa kelakuannya begitu adalah karena didorong oleh ego yang tinggi dan sifat pamer. Mereka ingin merasa menjadi pusat perhatian, ingin merasa paling cantik, paling seksi, dan paling diinginkan oleh orang lain. Ada rasa kepuasan tersendiri saat melihat banyak orang yang memuji, mengagumi, bahkan yang menghalalkan segala cara untuk bisa melihatnya. 
Ini bukan lagi soal merasa nyaman dengan tubuh sendiri, tapi ini soal ingin dipuji. Ego ini yang membuat mereka buta akan dampak buruknya. Mereka tidak peduli apakah penampilannya itu membuat orang lain berbuat dosa, atau apakah itu merusak tatanan moral masyarakat. Yang penting "aku" terlihat bagus, "aku" yang viral, "aku" yang dapat uang. Pola pikir yang sangat individualis dan serakah akan validasi. 
Mereka lupa bahwa tubuh yang dipamerkan itu adalah amanah. Dan ketika amanah itu disalahgunakan dengan cara ditonjolkan sembarangan, itu sama saja dengan merendahkan nilai diri sendiri. Harga diri seorang wanita itu mahal harganya, sayang sekali jika hanya ditukar dengan beberapa ratus ribu rupiah dari endorse atau sekadar komentar "cantik" dari orang asing di internet. 
 
 

Ketika Masa Prime Sudah Habis, Sisa Keterpurukan
Tapi perlu diingat baik-baik adalah hukum alam yang tidak bisa ditawar: Semua yang ada di dunia ini ada masanya, ada musimnya. Wajah akan menua, tubuh akan melar, dan daya tarik fisik itu akan pudar seiring berjalannya waktu. Ketika masa prime itu sudah habis, maka yang tersisa hanyalah keterpurukan parah sih. 
Bayangkanlah, saat sudah tidak lagi muda dan tidak lagi seksi, siapa yang akan datang? Orang-orang yang dulu memuji dan mengejarnya, mereka akan pergi mencari yang baru, yang lebih muda, dan yang lebih fresh. Fans yang datang karena nafsu, akan pergi juga karena nafsu. Mereka tidak akan setia. Yang tertinggal hanyalah rasa hampa, penyesalan, dan mungkin stigma buruk yang melekat seumur hidup. 
"Kecantikan fisik itu tamu yang singgah sebentar, tapi akhlak dan martabat itu tuan yang tinggal selamanya." 
Sungguh sangat menyedihkan jika di masa tua nanti, yang bisa dikenang hanyalah masa-masa dimana dulu pernah viral karena berpakaian tidak sopan. Tidak ada karya nyata, tidak ada ilmu yang dibagikan, tidak ada kebaikan yang tersisa, hanya kenangan akan popularitas murahan yang sudah lama membusuk. Itu adalah keterpurukan yang sangat dalam, karena menyadari bahwa masa muda dihabiskan untuk hal yang sia-sia. 
 
 Jangan mau dibutakan oleh istilah "normalisasi". Jangan biarkan hal yang salah dianggap benar hanya karena sudah banyak yang melakukannya. Jangan tukar martabat dan identitas bangsa hanya demi view dan uang sesaat. Cantik itu tidak harus menampakkan segalanya, seksi itu tidak harus mengundang dosa. 
Sebagai wanita, martabat itu jauh lebih mahal harganya daripada popularitas. Lebih baik sedikit yang melihat tapi menghormati, daripada banyak yang melihat tapi hanya menganggap sebagai objek pemuas nafsu. Ingatlah, apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. Jika yang ditanam adalah hal yang baik dan sopan, maka yang akan didapat adalah rasa hormat yang abadi. Namun jika yang ditanam adalah nafsu dan kesalahan, maka panennya adalah penyesalan yang tiada akhir. 
Mari kita jaga norma, jaga penampilan, dan jaga konten yang kita buat. Karena sesungguhnya, kecantikan yang awet itu bersumber dari kesopanan dan kecerdasan, bukan dari ketebalan kain atau bentuk tubuh. 
 
 #Opini #Normalisasi #MoralBangsa #KontenViral #EtikaBermediaSosial #Peringatan #IdentitasBangsa
📌 BACA JUGA
Loading...
DONASI VIA SOCIABUZZ Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi Anda membantu Admin untuk lebih giat lagi dalam membagikan tulisan yang terbaik. Terima kasih.
Postingan Lama Postingan Lama

Postingan lainnya

Komentar

Posting Komentar