Iklan Atas Header
Langsung ke konten utama

MENGENAL IMAM MAHDI EPISODE 2

STOP
KEBAKARAN

Cegah Karhutla — Lindungi Hutan & Lahan PEDULI HUTAN

Waspada musim kemarau, cegah api sejak dini demi udara bersih dan masa depan bumi!

FAARSYAM

FAARSYAM.MY.ID | Serial Akhir Zaman

Tiga Penguasa di Hijaz dan Jalan Menuju Kemunculan Imam Mahdi, Apa yang Benar Benar Disebutkan Hadis?

Perselisihan kekuasaan di sekitar Tanah Suci sering dikaitkan dengan kemunculan Imam Mahdi. Namun dalam membaca tanda akhir zaman, yang paling penting bukan menemukan siapa tokohnya hari ini, melainkan membedakan dengan jernih antara apa yang benar benar disebutkan Rasulullah dan apa yang hanya merupakan penafsiran manusia.

Faarsyam.my.id - Pembahasan tentang Imam Mahdi kembali membawa kita kepada sebuah rangkaian riwayat yang sangat menarik sekaligus membutuhkan kehati hatian. Salah satu bagian yang paling sering disebut dalam berbagai pembahasan akhir zaman adalah munculnya perselisihan di sekitar kekuasaan setelah wafatnya seorang pemimpin. Dari sinilah kemudian berkembang pemahaman tentang tiga orang penguasa atau tiga putra khalifah yang saling bertikai di sekitar harta simpanan, kemudian diikuti munculnya tanda tanda lain yang dikaitkan dengan Imam Mahdi.

Tetapi apabila pembahasan ini hendak dijadikan artikel berita yang bertanggung jawab, kita tidak boleh langsung mengatakan bahwa setiap rincian tersebut sudah pasti merupakan hadis sahih. Ada perbedaan penilaian ulama terhadap riwayat yang menyebut tiga orang anak khalifah. Riwayat tersebut tercantum dalam Sunan Ibnu Majah dan diriwayatkan pula melalui jalur lain, tetapi sebagian ahli hadis menilainya lemah sementara al Bazzar menilai sanadnya sahih. Karena terdapat perbedaan penilaian tersebut, riwayat itu lebih tepat ditempatkan sebagai riwayat yang diperselisihkan, bukan sebagai hadis sahih yang disepakati.

Catatan penting

Al Qur'an tidak menyebut nama Imam Mahdi secara eksplisit. Ayat ayat Al Qur'an yang berbicara tentang kekuasaan orang beriman, kemenangan setelah ketakutan, dan pewarisan bumi dapat menjadi landasan nilai dan prinsip, tetapi tidak boleh dipaksakan sebagai penyebutan langsung tentang Imam Mahdi.

Al Qur'an Berbicara tentang Kekuasaan dan Pergantian Keadaan

Salah satu ayat yang sering dibicarakan dalam konteks pemerintahan orang beriman adalah Surah An Nur ayat 55. Allah menjanjikan kepada orang orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh bahwa mereka akan diberi kekuasaan di bumi sebagaimana umat sebelum mereka diberi kekuasaan. Ayat tersebut juga menghubungkan kekuasaan dengan tegaknya agama, perubahan keadaan dari ketakutan menuju keamanan, serta penghambaan hanya kepada Allah.

Ayat tersebut sangat penting sebagai prinsip, tetapi perlu dibaca sesuai konteksnya. Tidak ada lafaz dalam ayat tersebut yang menyebut Imam Mahdi. Karena itu, menghubungkan ayat ini dengan Mahdi harus dipahami sebagai pembacaan tematik, bukan sebagai tafsir tekstual bahwa nama Mahdi disebut di dalam Al Qur'an.

Demikian pula Surah Al Qasas ayat 5 menyampaikan bahwa Allah berkehendak memberikan karunia kepada orang orang yang tertindas di bumi, menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka pewaris. Konteks langsung ayat tersebut berkaitan dengan Bani Israil yang ditindas Fir'aun. Namun pesan moralnya menunjukkan bahwa kekuasaan manusia bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Ia berada dalam ketentuan Allah dan dapat berubah ketika keadaan manusia berubah.

Riwayat Tiga Anak Khalifah yang Sering Dikaitkan dengan Hijaz

Riwayat yang menjadi perhatian dalam pembahasan ini berasal dari sahabat Tsauban radhiyallahu anhu. Dalam Sunan Ibnu Majah disebutkan bahwa akan terjadi pertikaian tiga orang yang masing masing merupakan anak khalifah di dekat suatu harta simpanan. Tidak satu pun dari mereka berhasil memperoleh harta tersebut. Setelah itu disebutkan munculnya panji panji hitam dari arah timur dan rangkaian peristiwa yang kemudian dikaitkan dengan al Mahdi.

Inilah sumber utama munculnya istilah tiga penguasa atau tiga putra khalifah dalam banyak tulisan mengenai akhir zaman. Akan tetapi ada persoalan penting yang tidak boleh dilewati. Riwayat tersebut bukan bagian dari Sahih Bukhari dan bukan pula bagian dari Sahih Muslim. Penilaian terhadap sanadnya juga tidak tunggal. Al Bazzar menilai sanadnya sahih, sedangkan al Albani menilainya lemah. Karena itu, secara jurnalistik lebih aman menyebutnya sebagai riwayat yang diperselisihkan statusnya.

Bahkan siapa sebenarnya tiga orang tersebut juga tidak dijelaskan secara tegas dalam teks riwayat. Tidak terdapat nama mereka. Tidak terdapat keterangan bahwa mereka adalah tiga raja Arab modern. Tidak terdapat pula penjelasan eksplisit bahwa mereka adalah tiga kepala negara yang sedang memimpin negara tertentu pada masa sekarang.

Hal ini menjadi titik penting. Ketika seseorang melihat ada beberapa pemimpin di kawasan Jazirah Arab kemudian langsung menetapkan bahwa merekalah tiga orang yang dimaksud hadis, sebenarnya ia telah melangkah lebih jauh daripada teks hadis itu sendiri.

Bagian yang Jauh Lebih Kuat Ada dalam Sahih Muslim

Berbeda dengan riwayat tiga anak khalifah, terdapat hadis yang sangat kuat mengenai sebuah pasukan yang bergerak menuju Ka'bah. Riwayat tersebut terdapat dalam Sahih Muslim. Dalam riwayat Ummu Salamah disebutkan bahwa seseorang akan berlindung di Ka'bah, kemudian sebuah pasukan dikirim untuk mengejarnya. Ketika pasukan tersebut berada di sebuah tanah lapang, mereka ditenggelamkan ke dalam bumi.

Riwayat Sahih Muslim juga memberikan gambaran bahwa orang yang berada dalam pasukan tersebut tidak semuanya memiliki niat yang sama. Ketika ditanyakan bagaimana nasib orang yang ikut secara terpaksa, Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan bahwa mereka tetap terkena peristiwa tersebut, tetapi pada hari kiamat mereka dibangkitkan berdasarkan niat masing masing.

Riwayat lain dari Aisyah radhiyallahu anha yang disepakati Bukhari dan Muslim juga menyebut sebuah pasukan yang menyerang Ka'bah lalu ditenggelamkan ketika berada di sebuah padang terbuka. Ketika Aisyah bertanya tentang orang yang tidak memiliki niat melakukan kejahatan tetapi berada bersama pasukan itu, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa mereka terkena peristiwa tersebut dan kemudian dibangkitkan berdasarkan niatnya.

Riwayat Pertama

Terdapat riwayat tentang tiga anak khalifah yang bertikai, tetapi status hadisnya diperselisihkan.

Riwayat Kedua

Sahih Muslim menyebut seseorang berlindung di Ka'bah lalu sebuah pasukan dikirim mengejarnya.

Riwayat Ketiga

Pasukan tersebut ditenggelamkan ke dalam bumi di sebuah tanah lapang dan manusia dinilai berdasarkan niatnya.

Di Sinilah Rangkaian Kemunculan Mahdi Menjadi Menarik

Apabila seluruh riwayat dibaca secara hati hati, terdapat sebuah gambaran yang jauh lebih kompleks daripada sekadar cerita tentang tiga penguasa. Ada keadaan politik yang kacau, ada seseorang yang berlindung di sekitar Ka'bah, ada pengejaran oleh pasukan, kemudian terjadi peristiwa luar biasa berupa ditenggelamkannya pasukan tersebut.

Namun kita juga harus menjaga jarak antara teks hadis dan rekonstruksi modern. Hadis sahih tentang pasukan yang ditenggelamkan tidak menyebut nama negara modern, tidak menyebut batas negara modern, tidak menyebut nomor raja, serta tidak memberikan nama tokoh politik masa kini.

Karena itu, jika suatu saat terjadi perselisihan politik di kawasan Hijaz, muncul pergantian kekuasaan, atau terdapat beberapa pihak yang saling mengklaim legitimasi, keadaan tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa rangkaian akhir zaman yang disebut dalam hadis telah dimulai.

Perselisihan Kekuasaan Tidak Otomatis Berarti Imam Mahdi Telah Muncul

Di sinilah menurut pandangan redaksi FAARSYAM pembaca perlu membedakan antara kemungkinan pola dan kepastian peristiwa. Perselisihan politik adalah sesuatu yang dapat terjadi dalam sejarah manusia. Sedangkan tanda akhir zaman merupakan perkara gaib yang tidak boleh ditentukan hanya berdasarkan kemiripan berita.

Rasulullah ﷺ juga memberikan perhatian besar terhadap kepemimpinan Quraisy. Dalam Sahih Bukhari disebutkan bahwa urusan kekuasaan tetap berada pada Quraisy selama mereka menegakkan agama. Sahih Muslim juga meriwayatkan hadis tentang dua belas khalifah yang semuanya berasal dari Quraisy. Riwayat tersebut menunjukkan bahwa pembahasan kepemimpinan dalam sejarah Islam memang memiliki hubungan dengan Quraisy, tetapi hadis tersebut sendiri tidak memberikan daftar nama yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi tokoh politik modern.

Dengan demikian, menyusun serial tentang Imam Mahdi tidak harus dimulai dengan menunjuk siapa rajanya. Justru serial yang lebih kuat adalah serial yang mengikuti urutan informasi yang diberikan oleh sumber. Kita dapat mulai dari kondisi kekacauan kekuasaan, kemudian melihat riwayat tentang orang yang mencari perlindungan di Ka'bah, kemudian mengejar rangkaian pasukan yang dikirim kepadanya, hingga peristiwa khusuf atau penenggelaman pasukan di sebuah tanah lapang.

Membaca Tanda Akhir Zaman Tanpa Memaksa Teks

Ada perbedaan besar antara mengatakan bahwa suatu peristiwa mempunyai kemiripan dengan sebuah hadis dan mengatakan bahwa peristiwa tersebut adalah hadis yang sedang digenapi. Pernyataan pertama masih berada pada wilayah kajian. Pernyataan kedua sudah menjadi klaim yang membutuhkan kepastian jauh lebih besar.

Prinsip tersebut menjadi sangat penting karena sejarah Islam telah menunjukkan bahwa manusia berkali kali mencoba mengidentifikasi tokoh akhir zaman berdasarkan situasi politik pada zamannya. Sebagian dugaan kemudian hilang bersama berlalunya waktu. Karena itu, pembahasan tentang Imam Mahdi seharusnya tidak berubah menjadi permainan tebak tokoh.

Justru semakin dekat seseorang dengan sumber hadis, semakin jelas bahwa ada bagian yang dapat dipastikan dan ada bagian yang harus ditahan. Kita dapat mengatakan bahwa hadis sahih menyebut peristiwa pasukan yang menuju Ka'bah dan kemudian ditenggelamkan. Kita juga dapat menyebut bahwa terdapat riwayat tentang tiga anak khalifah yang bertikai. Tetapi kita tidak memiliki dasar sahih yang tegas untuk mengatakan siapa tiga orang itu pada masa sekarang.

Dari sudut pandang jurnalistik, perbedaan kecil ini sebenarnya sangat besar nilainya. Pembaca berhak mengetahui mana teks hadis, mana penilaian ulama terhadap hadis, mana tafsir, dan mana dugaan manusia. Dengan cara seperti itu, pembahasan akhir zaman tidak kehilangan daya tariknya tetapi tetap menjaga kehormatan ilmu hadis.

Dan mungkin justru di situlah letak pelajaran terpentingnya. Ketika sebuah zaman dipenuhi perebutan kekuasaan, manusia biasanya sibuk mencari siapa yang akan menjadi penguasa berikutnya. Sedangkan hadis mengarahkan perhatian kepada sesuatu yang lebih dalam, yaitu bahwa manusia akan diuji melalui fitnah, pilihan, niat, kekuasaan, dan sikap mereka terhadap kebenaran.

Rangkaian ini belum selesai. Jika pembahasan diteruskan secara ketat berdasarkan riwayat yang paling kuat, titik berikutnya bukan langsung menebak nama tiga penguasa, melainkan menelusuri secara khusus sosok yang mencari perlindungan di Ka'bah, proses baiat di sekitar Ka'bah, pasukan yang dikirim untuk mengejarnya, serta peristiwa khusuf yang menjadi salah satu tanda paling jelas dalam rangkaian tersebut.

Jadi Intinya...

Pertama

Riwayat tentang tiga anak khalifah yang bertikai memang ada, tetapi statusnya diperselisihkan sehingga tidak boleh diposisikan sebagai hadis sahih yang disepakati.

Kedua

Riwayat yang jauh lebih kuat dalam Sahih Muslim serta riwayat Bukhari dan Muslim menyebut pasukan yang menuju Ka'bah lalu ditenggelamkan di sebuah tanah lapang.

Ketiga

Tidak ada dasar yang cukup untuk menunjuk penguasa modern tertentu sebagai tiga tokoh dalam riwayat tersebut. Teks hadis harus dipisahkan dari dugaan dan pencocokan peristiwa masa kini.

#ImamMahdi   #AkhirZaman   #Hijaz   #Makkah   #Hadis

STOP
KEBAKARAN

Cegah Karhutla — Lindungi Hutan & Lahan PEDULI HUTAN

Waspada musim kemarau, cegah api sejak dini demi udara bersih dan masa depan bumi!

FAARSYAM

Komentar