Cegah Karhutla — Lindungi Hutan & Lahan PEDULI HUTAN
Waspada musim kemarau, cegah api sejak dini demi udara bersih dan masa depan bumi!
Iran Mengubah Permainan, Ketika Perang Mulai Memburu Kapal Perang Amerika
faarsyam.my.id
Perang Iran dan Amerika Serikat kini memasuki babak yang jauh lebih berbahaya.
Bukan karena dunia baru melihat rudal beterbangan. Serangan rudal sudah menjadi bagian dari konflik ini sejak awal. Yang berubah adalah arah tekanan kedua pihak.
Iran mulai membawa ancaman lebih dekat kepada kekuatan laut Amerika.
Amerika kemudian membalas dengan menghantam kapal tanker Iran.
Sementara itu, di sisi lain kawasan, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran semakin mendekati jalur strategis Bab el Mandeb dan meningkatkan tekanan terhadap Arab Saudi.
Dengan demikian, perang yang sebelumnya dapat dibaca sebagai pertarungan antara Washington dan Tehran perlahan berubah menjadi jaringan konflik yang melibatkan laut, energi, perdagangan dan kepentingan sejumlah negara sekaligus.
Di sinilah saya melihat persoalan sebenarnya.
Iran mungkin tidak mempunyai kemampuan untuk mengalahkan Amerika dalam perang konvensional. Amerika masih mempunyai kekuatan udara dan laut yang jauh lebih besar. Kapal induk, kapal perusak, pesawat tempur, satelit, sistem pertahanan, jaringan intelijen dan pangkalan militer Amerika memberikan keunggulan yang sulit ditandingi secara langsung.
Tetapi Iran tidak perlu memenangkan pertandingan dengan aturan Amerika.
Tehran hanya perlu mengubah medan permainan.
Dan laut adalah salah satu tempat terbaik untuk melakukan itu.
Dari Pangkalan Menuju Kapal Perang
Beberapa hari terakhir memberikan tanda penting.
Pada 5 September, Iran meluncurkan rudal balistik ke arah kapal perang Amerika. Iran menyatakan sasaran tersebut termasuk kapal induk dan kapal perusak yang sedang menjalankan blokade terhadap pelabuhan Iran. Amerika kemudian menyatakan bahwa rudal tersebut tidak mengenai kapal perang dan tidak menimbulkan korban.
Tetapi jangan hanya melihat hasil akhirnya.
Lihat pesan strategisnya.
Iran sekarang berusaha membuat kapal perang Amerika ikut menghitung risiko setiap kali bergerak di kawasan tersebut.
Itu berbeda dengan menyerang sebuah pangkalan.
Pangkalan tidak bergerak.
Kapal bergerak.
Kapal perang harus mencari posisi yang aman sambil tetap menjalankan misi. Kapal induk juga bukan sekadar kapal besar. Di dalamnya terdapat kemampuan udara yang sangat mahal dan menjadi pusat kekuatan militer Amerika.
Maka ancaman terhadap kapal perang mempunyai nilai psikologis dan strategis yang lebih besar daripada sekadar menghitung apakah sebuah rudal berhasil mengenai sasaran.
Iran ingin menunjukkan bahwa kekuatan Amerika tidak bebas bergerak tanpa memperhitungkan biaya.
Dan Amerika memahami pesan tersebut.
Washington membalas dengan menghancurkan kapal tanker minyak Iran.
Kemudian serangan terhadap armada minyak Iran semakin meningkat.
Maka terbentuklah sebuah pola yang sangat berbahaya.
Iran menekan kekuatan laut Amerika.
Amerika menekan sumber pendapatan Iran.
Iran kemudian berusaha meningkatkan biaya pelayaran.
Amerika berusaha memastikan jalur tersebut tetap dapat digunakan.
Pada titik tertentu, ini bukan lagi sekadar perang rudal.
Ini sudah menjadi perang untuk mengendalikan ruang gerak.
Hormuz Berubah Menjadi Senjata Ekonomi
Selat Hormuz mungkin menjadi bagian paling penting dari seluruh konflik ini.
Iran mengetahui nilai geografisnya.
Amerika juga mengetahuinya.
Dunia mengetahuinya.
Sebelum perang, Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Ketika perang membuat lalu lintas kapal turun drastis, dampaknya langsung terasa pada pasar energi.
Data pelacakan kapal bahkan menunjukkan lalu lintas di Hormuz telah turun sangat jauh dibandingkan kondisi sebelum perang.
Dan pada 13 September, laporan mengenai sebuah kapal yang terkena proyektil di Hormuz kembali memperbesar kekhawatiran mengenai gangguan pasokan minyak. Pada saat bersamaan, jalur pipa utama Saudi juga mengalami gangguan akibat serangan drone.
Harga minyak kemudian kembali menembus 100 dolar per barel.
Ini bukan lagi angka yang hanya penting bagi trader minyak.
Angka tersebut dapat berubah menjadi biaya transportasi.
Kemudian biaya transportasi berubah menjadi biaya distribusi.
Biaya distribusi berubah menjadi harga barang.
Pada akhirnya masyarakat biasa yang membayar.
Inilah mengapa perang Iran tidak boleh dipandang hanya sebagai berita luar negeri.
Ketika Hormuz terguncang, dampaknya dapat berjalan melalui sistem ekonomi dunia dan akhirnya sampai ke Indonesia.
Iran Sedang Memainkan Permainan Ketahanan
Menurut saya, inilah kunci untuk memahami strategi Tehran.
Iran tahu bahwa Amerika lebih kuat.
Iran tahu bahwa perang terbuka melawan kekuatan militer Amerika merupakan perjudian yang sangat mahal.
Karena itu Iran tidak harus menghancurkan armada Amerika.
Iran hanya perlu membuat armada tersebut semakin mahal untuk digunakan.
Bayangkan sebuah kapal perang yang harus mendapatkan perlindungan lebih banyak.
Bayangkan kapal komersial yang harus menggunakan pengawalan.
Bayangkan perusahaan pelayaran yang menaikkan premi asuransi.
Bayangkan kapal tanker yang memilih menunggu daripada memasuki kawasan berisiko.
Semua itu mempunyai nilai ekonomi.
Dan semuanya dapat terjadi tanpa Iran harus menenggelamkan sebuah kapal induk.
Inilah kekuatan perang asimetris.
Negara yang lebih lemah tidak selalu harus menjadi lebih kuat daripada lawannya.
Ia hanya perlu menemukan cara untuk membuat keunggulan lawan menjadi tidak murah.
Iran tampaknya sedang mencoba melakukan hal tersebut.
Namun strategi ini juga mempunyai batas.
Jika Iran terlalu jauh menyerang kapal komersial atau menyebabkan korban besar dari negara ketiga, dukungan internasional terhadap tindakan Iran dapat berkurang.
Dengan kata lain, Tehran sedang berjalan di atas garis yang sangat tipis.
Terlalu lemah berarti kehilangan daya tawar.
Terlalu agresif berarti memberikan alasan kepada Amerika untuk memperluas perang.
Amerika Mulai Menggunakan Tekanan Ekonomi
Washington juga tidak tinggal diam.
Ketika Iran mencoba menggunakan Hormuz untuk menekan Amerika, Amerika menyerang sumber pendapatan yang menjadi salah satu urat nadi Iran.
Kapal tanker menjadi sasaran.
Ini menunjukkan bahwa perang sudah bergerak dari penghancuran fasilitas militer menuju perebutan kemampuan ekonomi untuk mempertahankan perang.
Masalahnya, strategi tersebut dapat menjadi pedang bermata dua.
Semakin banyak kapal minyak Iran dihantam, semakin besar tekanan terhadap ekspor Iran.
Tetapi semakin banyak kapal minyak yang menjadi sasaran, semakin besar pula risiko pasar minyak dunia bereaksi.
Amerika mungkin berhasil menekan Iran.
Tetapi pada saat yang sama Amerika juga berhadapan dengan harga energi yang lebih tinggi.
Dan harga energi adalah persoalan politik.
Kenaikan harga BBM dapat memengaruhi inflasi.
Inflasi dapat memengaruhi masyarakat.
Masyarakat dapat memengaruhi politik.
Dengan demikian, perang yang terjadi jauh dari Washington dapat perlahan masuk ke dalam perhitungan politik domestik Amerika.
Itulah mengapa perang panjang selalu berbeda dengan perang singkat.
Semakin lama berlangsung, semakin banyak kepentingan yang ikut masuk ke dalam perhitungan.
Konflik Mulai Membuka Pintu Bagi Negara Lain
Yang membuat situasi sekarang semakin berbahaya adalah konflik ini tidak lagi hanya bergerak di sekitar Iran dan Amerika.
Yaman mulai menjadi bagian penting.
Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran telah bergerak di sepanjang pesisir Laut Merah dan dilaporkan berhasil mengambil posisi strategis menuju Bab el Mandeb.
Kalau perkembangan ini berlanjut, dunia menghadapi situasi yang sangat tidak nyaman.
Hormuz berada dalam tekanan dari sisi timur.
Bab el Mandeb berada dalam tekanan dari sisi barat daya.
Dua jalur penting perdagangan dunia mulai menghadapi ancaman.
Dan Saudi berada di antara keduanya.
Arab Saudi tidak dapat membiarkan wilayahnya terus menjadi sasaran.
Tetapi setiap langkah militer Saudi juga dapat memperluas konflik.
Inilah yang disebut efek domino.
Tidak selalu dimulai dengan sebuah negara menyatakan perang.
Kadang dimulai dengan satu negara mempertahankan wilayahnya.
Kemudian negara lain memberikan bantuan.
Kemudian bantuan tersebut menjadi sasaran.
Kemudian negara yang memberikan bantuan membalas.
Dalam beberapa hari atau beberapa minggu, sebuah konflik lokal berubah menjadi konflik regional.
Arab Saudi Mulai Berada Dalam Tekanan Besar
Saudi mempunyai kepentingan langsung untuk menjaga jalur energi.
Jika ekspor minyak terganggu, kerugian bukan hanya milik perusahaan.
Perekonomian nasional ikut terdampak.
Karena itu Riyadh membutuhkan dukungan pertahanan.
Amerika mempunyai kemampuan untuk memberikan dukungan tersebut.
Tetapi Washington juga menghadapi persoalan sendiri.
Apakah Amerika ingin membuka front baru melawan Houthi ketika sebagian besar sumber dayanya sudah terserap dalam perang melawan Iran?
Di sinilah posisi Amerika menjadi semakin rumit.
Reuters melaporkan bahwa Washington sejauh ini lebih memilih berbagi intelijen dan mendukung Saudi daripada langsung masuk ke perang baru melawan Houthi.
Keputusan itu masuk akal secara militer.
Amerika tidak ingin membuka medan perang ketiga.
Tetapi semakin kuat Houthi menguasai wilayah yang mendekati Bab el Mandeb, semakin mahal pula keputusan untuk tidak bertindak.
Amerika akhirnya menghadapi pilihan yang sama sama tidak nyaman.
Masuk lebih dalam berarti menambah beban.
Tidak masuk berarti memberikan ruang lebih besar kepada lawan.
Ada Satu Perubahan Yang Sering Tidak Disadari
Menurut saya, perkembangan paling penting bukan hanya jumlah serangan.
Yang lebih penting adalah perubahan geografis konflik.
Perang Iran sekarang mulai mempunyai beberapa titik tekanan.
Iran dan Amerika bertarung di sekitar Teluk.
Hormuz menjadi pusat perebutan jalur pelayaran.
Saudi menghadapi serangan.
Yaman bergerak menuju Bab el Mandeb.
Kapal tanker menjadi sasaran.
Harga minyak naik.
Dan negara negara Teluk mulai mencari jalan untuk mencegah konflik menghancurkan ekonomi mereka.
Artinya, perang sedang bergerak dari satu medan menuju sistem konflik yang lebih luas.
Kalau kecenderungan ini tidak dihentikan, satu serangan tidak lagi berdampak pada dua pihak.
Satu serangan dapat memicu respons di tiga atau empat lokasi sekaligus.
Itulah yang membuat perang seperti ini sulit dikendalikan.
Yang Belum Terlihat Justru Bisa Menjadi Penentu
Di balik semua laporan mengenai rudal dan kapal perang, masih terdapat banyak hal yang belum dapat diketahui publik secara pasti.
Berapa banyak rudal Iran yang masih tersedia?
Seberapa besar kemampuan produksi Iran selama perang berlangsung?
Seberapa banyak sistem pertahanan Amerika telah digunakan?
Berapa lama armada Amerika dapat mempertahankan operasi dengan intensitas tinggi?
Seberapa besar cadangan minyak Iran yang masih dapat digunakan?
Seberapa lama perusahaan pelayaran bersedia mengambil risiko di Hormuz?
Seberapa jauh Houthi mampu memperluas pengaruhnya di sekitar Bab el Mandeb?
Dan yang paling penting, seberapa besar tekanan ekonomi mulai dirasakan oleh masyarakat Iran?
Pertanyaan terakhir sangat penting.
Sebab perang pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh tentara.
Perang juga ditentukan oleh kemampuan sebuah negara mempertahankan masyarakatnya.
Jika ekonomi Iran semakin tertekan, Tehran akan menghadapi persoalan internal.
Tetapi Amerika juga tidak bebas dari tekanan.
Harga minyak yang tinggi dapat mengganggu ekonomi Amerika.
Biaya perang juga meningkat.
Dan perang yang terlalu lama dapat mengubah opini masyarakat.
Dengan demikian, kedua negara sebenarnya sedang berlomba melawan waktu.
Siapa Yang Mulai Kehabisan Ruang?
Kalau ukurannya adalah kekuatan militer, Iran jelas berada dalam posisi lebih sulit.
Amerika masih mempunyai keunggulan yang sangat besar.
Namun kalau ukurannya adalah kemampuan mempertahankan perang tanpa menanggung biaya politik dan ekonomi yang semakin besar, persoalannya menjadi berbeda.
Iran sedang menghadapi tekanan yang sangat berat.
Tetapi Amerika juga menghadapi masalah yang tidak bisa diabaikan.
Kapal perang harus terus dilindungi.
Pangkalan harus dipertahankan.
Jalur perdagangan harus dijaga.
Sekutu harus diyakinkan.
Harga energi harus dikendalikan.
Dan pada saat yang sama, Washington harus menghindari agar konflik tidak berkembang menjadi perang regional yang membutuhkan pengerahan kekuatan jauh lebih besar.
Karena itu saya tidak melihat situasi sekarang sebagai Iran sedang mengalahkan Amerika.
Itu terlalu jauh.
Saya juga tidak melihat Amerika sedang memenangkan perang dengan mudah.
Itu juga tidak sesuai dengan perkembangan di lapangan.
Yang saya lihat adalah kedua pihak sedang mencoba memindahkan biaya perang kepada lawannya.
Iran berusaha membuat Amerika membayar mahal untuk mempertahankan blokade dan jalur laut.
Amerika berusaha membuat Iran membayar mahal untuk mempertahankan kemampuan militernya.
Dan siapa yang lebih cepat kehabisan ruang gerak, dialah yang akan berada dalam posisi paling sulit.
Satu Minggu Ke Depan Akan Sangat Penting
Dalam tujuh hari berikutnya, saya tidak akan terlalu fokus pada klaim kemenangan dari kedua pihak.
Saya justru akan melihat perubahan perilaku.
Jika Iran semakin sering mengarahkan rudal kepada kapal perang Amerika, berarti Tehran semakin yakin bahwa tekanan terhadap armada laut dapat menghasilkan keuntungan.
Jika Amerika semakin banyak menghancurkan tanker dan fasilitas ekonomi Iran, berarti Washington sedang meningkatkan perang ekonomi.
Jika lalu lintas Hormuz semakin turun, berarti pasar mulai menganggap gangguan ini sebagai ancaman jangka panjang.
Jika Houthi semakin mendekati atau menguasai posisi penting di Bab el Mandeb, maka konflik akan mendapatkan dimensi baru.
Jika Saudi meminta keterlibatan Amerika semakin besar, Washington akan menghadapi pilihan yang semakin sulit.
Tetapi jika Oman dan negara negara Teluk berhasil membuka pengaturan sementara untuk pelayaran, maka masih ada kemungkinan konflik mengalami sedikit pendinginan.
Pertemuan diplomatik yang dijadwalkan di Oman menjadi salah satu perkembangan yang patut diperhatikan.
Namun jangan berharap terlalu cepat.
Masalah yang dihadapi bukan hanya soal kapal lewat atau tidak lewat.
Iran ingin mendapatkan posisi tawar atas Hormuz.
Amerika ingin memastikan kebebasan navigasi dan mempertahankan blokadenya.
Keduanya mempunyai kepentingan yang bertabrakan.
Karena itu diplomasi akan sangat sulit.
Iran Bisa Menang Tanpa Mengalahkan Amerika
Ini mungkin terdengar aneh, tetapi dalam perang seperti ini kemenangan tidak selalu berarti menghancurkan lawan.
Iran dapat menganggap dirinya memperoleh keuntungan apabila berhasil memaksa Amerika mengurangi tekanan.
Amerika dapat menganggap dirinya menang apabila Iran kehilangan kemampuan untuk mempertahankan perang.
Dengan demikian, definisi kemenangan kedua pihak sangat berbeda.
Iran membutuhkan daya tahan.
Amerika membutuhkan hasil yang dapat membenarkan biaya.
Dan inilah titik paling menarik dari perang tersebut.
Amerika memiliki kekuatan untuk memberikan pukulan lebih besar.
Iran memiliki kemampuan untuk membuat pukulan tersebut tidak otomatis menghasilkan kemenangan politik.
Perang dapat dimenangkan secara militer tetapi gagal mencapai tujuan politik.
Sejarah sudah berkali kali menunjukkan hal tersebut.
Karena itu saya melihat perang Iran bukan sekadar pertarungan rudal.
Ini adalah pertarungan kehendak.
Pertarungan ekonomi.
Pertarungan logistik.
Pertarungan diplomasi.
Dan pada akhirnya pertarungan mengenai siapa yang lebih mampu bertahan ketika biaya perang mulai terasa di dalam negeri.
Dunia Harus Bersiap Dengan Efek Domino
Bagi Indonesia, ada satu hal yang menurut saya harus menjadi perhatian.
Kita tidak perlu ikut dalam konflik untuk terkena dampaknya.
Indonesia tidak harus mengirim satu pun tentara ke Timur Tengah untuk merasakan akibat perang tersebut.
Cukup harga minyak naik.
Cukup biaya pengiriman meningkat.
Cukup rupiah mengalami tekanan.
Cukup harga bahan bakar dan logistik bergerak naik.
Kemudian efeknya akan merambat ke sektor lain.
Transportasi.
Pangan.
Distribusi.
Industri.
Perdagangan.
Dan akhirnya rumah tangga.
Karena itu pemerintah Indonesia harus membaca perang ini bukan hanya sebagai masalah diplomasi internasional.
Ini juga merupakan masalah ekonomi nasional.
Cadangan energi perlu dihitung.
Kebijakan subsidi perlu disiapkan.
Distribusi BBM harus diawasi.
Harga pangan harus dijaga.
Dan masyarakat harus diberi informasi yang benar agar tidak terjadi kepanikan.
Sebab dalam perang besar, kepanikan ekonomi kadang dapat menghasilkan dampak yang lebih cepat daripada rudal.
Kesimpulan Faarsyam
Perang Iran dan Amerika sekarang sudah melewati tahap di mana kita cukup melihat siapa yang menyerang siapa.
Permainan telah berubah.
Iran mulai mencoba menjadikan kapal perang Amerika sebagai sasaran tekanan.
Amerika merespons dengan meningkatkan tekanan terhadap armada minyak Iran.
Hormuz berubah menjadi pusat perebutan kepentingan.
Houthi bergerak semakin dekat dengan Bab el Mandeb.
Saudi berada dalam tekanan.
Negara negara Teluk mulai mencari jalan keluar.
Harga minyak kembali bergerak tinggi.
Dan dunia mulai menghitung kemungkinan bahwa gangguan energi ini tidak akan selesai dalam hitungan hari.
Amerika masih jauh lebih kuat secara militer.
Tetapi Iran sedang berusaha membuat kekuatan tersebut menjadi semakin mahal untuk digunakan.
Itulah yang menurut saya menjadi inti perkembangan perang sekarang.
Iran tidak perlu menenggelamkan kapal induk Amerika untuk memperoleh keuntungan strategis.
Amerika juga tidak cukup hanya menghancurkan sejumlah fasilitas Iran untuk memastikan kemenangan politik.
Keduanya sedang bertarung dalam permainan yang jauh lebih panjang.
Dan yang paling berbahaya adalah kemungkinan bahwa tidak ada satu pihak pun yang benar benar ingin mundur terlebih dahulu.
Jika Iran mundur terlalu jauh, daya tawarnya runtuh.
Jika Amerika mundur tanpa hasil yang jelas, kredibilitas strategisnya dipertanyakan.
Maka keduanya memiliki alasan untuk terus menekan.
Tetapi semakin lama mereka menekan, semakin besar pula kemungkinan pihak ketiga ikut terseret.
Saudi.
Yaman.
Negara negara Teluk.
Perusahaan pelayaran.
Pasar minyak.
Dan pada akhirnya masyarakat dunia.
Bagi saya, inilah alasan mengapa tujuh hari ke depan sangat penting.
Bukan untuk mencari siapa yang paling keras berteriak sebagai pemenang.
Tetapi untuk melihat siapa yang mulai mengubah perilakunya karena tekanan lawan.
Kalau kapal perang Amerika mulai mengubah pola operasinya, kita mendapatkan satu petunjuk.
Kalau Iran mulai kehilangan kemampuan mempertahankan tekanan terhadap Hormuz, kita mendapatkan petunjuk lain.
Kalau Houthi berhasil membuat Bab el Mandeb semakin tidak aman, maka perang telah mendapatkan medan baru.
Dan kalau harga minyak terus bertahan tinggi sementara jalur pelayaran semakin terganggu, maka masyarakat dunia sedang memasuki fase ketika perang di Timur Tengah berubah menjadi masalah ekonomi global.
Di sinilah saya melihat bahaya sebenarnya.
Perang mungkin dimulai dengan rudal.
Tetapi dampaknya dapat berakhir di meja makan.
Dan ketika itu terjadi, kita tidak lagi berbicara mengenai Iran, Amerika atau Timur Tengah semata.
Kita sedang berbicara mengenai dunia yang mulai membayar harga dari sebuah perang yang semakin sulit dikendalikan.
Iran belum mengalahkan Amerika.
Amerika juga belum berhasil mematahkan Iran.
Tetapi keduanya sudah memasuki permainan yang sama sama berbahaya.
Siapa yang mampu bertahan paling lama, siapa yang mampu menjaga ekonominya tetap hidup, siapa yang mampu mempertahankan dukungan politik dan siapa yang masih mempunyai ruang untuk bernegosiasi ketika tekanan mencapai titik tertinggi.
Mungkin di situlah pemenang sebenarnya akan ditentukan.
Bukan ketika rudal terakhir ditembakkan.
Tetapi ketika salah satu pihak menyadari bahwa melanjutkan perang sudah lebih mahal daripada mencari jalan untuk mengakhirinya.
Dan menurut saya, perang Iran baru saja memasuki fase ketika perhitungan seperti itulah yang akan menentukan masa depannya.
Cegah Karhutla — Lindungi Hutan & Lahan PEDULI HUTAN
Waspada musim kemarau, cegah api sejak dini demi udara bersih dan masa depan bumi!
Komentar
Posting Komentar
Apa Yang Anda Pikirkan...?