Notification

×

Kategori Tulisan

Cari Artikel/Kata/Judul

Iklan

ADVERTISEMENT
Advertisement Space

Iklan

ADVERTISEMENT
Advertisement Space

Hadapi Blokade AS di Selat Hormuz, Iran Andalkan Perbatasan dan Jalur Darat

Rabu, 15 April 2026 | 01:01 UTC+8 (Makassar) | 0 Views Last Updated 2026-04-14T17:01:25Z


Faarsyam - TEHERAN – Menghadapi blokade angkatan laut yang diterapkan Amerika Serikat (AS) sejak Senin, 13 April 2026, Iran tidak tinggal diam. Pemerintah Teheran mengonfirmasi akan memanfaatkan seluruh potensi wilayah dan jalur perdagangan alternatif untuk meminimalkan dampak tekanan ekonomi yang ingin diciptakan AS dengan memutus akses di jalur strategis Selat Hormuz.

Menteri Dalam Negeri Iran, Eskandar Momeni, menegaskan bahwa negaranya tidak akan terpengaruh secara mendalam oleh pembatasan akses laut tersebut. Hal ini didasarkan pada kondisi geografis Iran yang memiliki garis perbatasan darat dan laut mencapai lebih dari 8.000 kilometer, yang bisa dialihfungsikan sebagai jalur perdagangan.

"Iran tidak akan terpengaruh oleh blokade yang dilakukan Amerika Serikat di Selat Hormuz," ujar Momeni seperti dikutip dari laporan Al Jazeera, Selasa (14/4/2026).

Momeni pun telah mengeluarkan instruksi kepada seluruh pejabat di provinsi-provinsi yang terletak di wilayah perbatasan. Mereka diminta untuk memfasilitasi kelancaran arus masuk barang-barang kebutuhan penting, sehingga dampak dari blokade laut dapat dinetralisir.

Langkah ini diambil menyusul keputusan AS yang menutup akses pelayaran menuju dan dari pelabuhan Iran, yang merupakan salah satu sumber pendapatan utama negara tersebut. Sebagaimana diketahui, sebagian besar ekspor minyak, gas, produk petrokimia, plastik, hingga hasil pertanian Iran selama ini bergantung pada jalur laut yang melewati Selat Hormuz—jalur yang juga melayani sekitar 20 persen pasokan energi global. Situasi ini berubah total sejak pecahnya konflik pada 28 Februari 2026, di mana Iran awalnya membatasi akses, hingga kini gilirannya menghadapi blokade dari pasukan AS.

Meski akses laut terhambat, Iran sebenarnya sudah memiliki jaringan perdagangan darat yang dikembangkan sejak lama, terutama untuk menjalin hubungan dengan mitra dagang utamanya, seperti China. Jalur kereta api yang menghubungkan kedua negara melalui wilayah Asia Tengah, melintasi Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan, kini menjadi opsi vital.

Menurut analisis dari lembaga konsultan geopolitik SpecialEurasia, jalur transportasi darat ini memiliki nilai strategis karena terhindar dari risiko pencegahan atau pengawasan oleh pasukan militer negara-negara Barat. Namun, tantangan tetap ada. Pengangkutan komoditas energi seperti minyak melalui jalur kereta api dinilai jauh lebih rumit secara logistik dibandingkan lewat laut, dan hingga saat ini belum ada data yang membuktikan bahwa metode ini digunakan secara massal untuk ekspor hidrokarbon.

Di sisi lain, arus impor Iran yang didominasi mesin industri, peralatan elektronik, dan bahan pangan—yang umumnya berasal dari China, Uni Emirat Arab, dan Turki—diharapkan tetap bisa berjalan melalui jalur darat ini. Langkah Iran memaksimalkan perbatasan dan jalur darat ini menjadi strategi bertahan hidup ekonomi di tengah tekanan militer yang semakin ketat.

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya: “Sesungguhnya segala amal tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkan.”

[Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim]

ADVERTISEMENT
Advertisement Space

#FYI

×
Ingin Traktir Penulis (Faarsyam)? Disini