Notification

×

Kategori Tulisan

Cari Artikel/Kata/Judul

Iklan

ADVERTISEMENT
Advertisement Space

Iklan

ADVERTISEMENT
Advertisement Space

Negara-Negara Eropa Tolak Bergabung dalam Rencana Blokade AS di Selat Hormuz

Selasa, 14 April 2026 | 15:23 UTC+8 (Makassar) | 0 Views Last Updated 2026-04-14T07:23:29Z



Faarsyam - BRUSSEL/LONDON/PARIS – Ketegangan di kawasan Teluk Persia semakin memanas setelah Amerika Serikat merencanakan tindakan blokade di Selat Hormuz menyusul penutupan jalur tersebut oleh Iran sejak akhir Februari 2026. Namun, rencana ini tidak mendapat dukungan dari sejumlah negara sekutu di Eropa, yang justru menolak terlibat dan memilih jalan penyelesaian yang lebih diplomatik serta damai, sehingga menimbulkan perpecahan dalam kubu aliansi Barat.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya telah mengajak negara-negara sekutu, termasuk anggota Aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), untuk ikut serta dalam operasi angkatan laut demi menutup akses pelayaran kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran. Namun, permintaan tersebut mendapat tanggapan yang dingin dan penolakan tegas dari berbagai negara Eropa.

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dengan tegas menyatakan bahwa negaranya tidak akan mendukung rencana blokade tersebut. "Keputusan saya sangat jelas: apa pun tekanannya, kami tidak akan terseret ke dalam perang yang lebih luas," ujarnya seperti dikutip dari media lokal. Pihaknya justru sedang menyusun rencana bersama negara-negara sekutu untuk membuka kembali jalur pelayaran dengan cara yang aman dan tidak memicu pertempuran.

Sikap serupa juga disampaikan oleh Prancis. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menyatakan bahwa negaranya tidak akan ikut serta dalam operasi blokade yang diusulkan AS. Sebagai gantinya, Prancis berniat mengadakan pertemuan tingkat tinggi yang melibatkan sekitar 30 negara, baik dari kawasan Teluk maupun wilayah lain, untuk membentuk misi angkatan laut multinasional yang bersifat pertahanan semata. Misi ini bertujuan untuk menjamin kebebasan berlayar dan keamanan kapal dagang, namun hanya akan dijalankan setelah situasi konflik mereda dan ada jaminan keamanan dari pihak terkait.

Sementara itu, Jerman juga menolak keras untuk mengirimkan pasukan militer ke kawasan tersebut. Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menegaskan bahwa konflik ini bukanlah urusan NATO maupun Eropa. Ia menyerukan agar penyelesaian masalah dilakukan melalui saluran politik dan diplomasi secepat mungkin. Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, bahkan menyebut bahwa "ini bukan perang kami".

Posisi serupa juga diambil oleh negara-negara Eropa lainnya seperti Italia, Spanyol, dan Polandia. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mewakili pendirian blok tersebut menyatakan bahwa negara-negara anggota tidak berniat terlibat dalam aksi militer terhadap Iran dan tidak menginginkan perang yang berlarut-larut.

Penolakan dari negara-negara Eropa ini tentu saja membuat AS kecewa. Trump bahkan menilai sikap sekutunya itu sebagai kesalahan besar. Padahal, Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang sangat vital karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewatinya. Penutupan jalur ini telah menyebabkan lonjakan harga minyak dunia dan menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya krisis energi global.

Meskipun demikian, negara-negara Eropa tetap berpegang teguh pada prinsipnya. Mereka khawatir bahwa tindakan blokade militer justru akan memperburuk situasi dan memicu konflik yang lebih besar serta meluas. Oleh karena itu, mereka lebih memilih untuk mendorong tercapainya gencatan senjata dan penyelesaian damai yang disepakati bersama oleh semua pihak yang terlibat.

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya: “Sesungguhnya segala amal tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkan.”

[Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim]

ADVERTISEMENT
Advertisement Space

#FYI

×
Ingin Traktir Penulis (Faarsyam)? Disini