Gencatan Senjata AS-Iran Terancam: Israel Bombardir Lebanon, Nasib Selat Hormuz Kembali Menggantung
Jakarta, 10 April 2026 – Harapan akan perdamaian di Timur Tengah kembali teruji. Hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mengumumkan kesepakatan gencatan senjata sementara, Israel justru melancarkan serangan udara masif ke Lebanon yang memakan banyak korban jiwa. Aksi ini memicu kemarahan besar dan mempertanyakan nasib jalur strategis Selat Hormuz.
Serangan Brutal Israel, Ratusan Warga Sipil Tewas
Pada Rabu (8/4/2026), militer Israel meluncurkan gelombang serangan udara terbesar sejak konflik memanas. Dalam waktu singkat, lebih dari 100 target dihantam di berbagai wilayah, termasuk ibu kota Beirut, Lebanon Selatan, dan Lembah Bekaa .
Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan Lebanon yang dirilis Jumat (10/4), jumlah korban tewas telah mencapai 303 orang, dengan 1.150 orang lainnya terluka . Sebagian besar korban adalah warga sipil, termasuk anak-anak, wanita, dan lansia . Operasi pencarian dan evakuasi masih berlangsung di tengah reruntuhan bangunan .
Serangan ini terjadi tepat setelah kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran diumumkan. Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam cakupan perjanjian tersebut dan operasi melawan Hizbullah akan terus berlanjut .
Iran Murka: Gencatan Senjata Bisa Batal
Pemerintah Iran menilai serangan Israel sebagai pelanggaran berat dan disengaja terhadap semangat gencatan senjata yang baru saja disepakati . Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, menekankan bahwa Teheran menganggap stabilitas di Lebanon sebagai bagian tak terpisahkan dari komitmen perdamaian .
"Kita tidak bisa menyepakati gencatan senjata, lalu sekutu Anda memulai pembantaian," tegas Khatibzadeh dalam wawancara .
Sumber internal Iran juga mengonfirmasi bahwa negara tersebut sedang mengevaluasi ulang posisinya. Jika serangan tidak dihentikan, Iran tidak menutup kemungkinan untuk membatalkan seluruh kesepakatan dengan AS dan mengambil langkah balasan yang tegas .
Apakah Selat Hormuz Kembali Ditutup?
Pertanyaan besar yang kini menghantui pasar global adalah nasib Selat Hormuz, jalur laut yang dilewati sekitar 20% pasokan minyak dunia .
Berdasarkan informasi terbaru hingga 10 April 2026:
- Status Resmi: Iran belum mengumumkan penutupan total secara resmi. Namun, akses pelayaran dibuat sangat ketat dan terbatas .
- Realita di Lapangan: Meskipun kesepakatan menyebutkan "jalur aman", data pelacakan kapal menunjukkan lalu lintas sangat minim. Rata-rata hanya sekitar 5-7 kapal yang berhasil melintas per hari, jauh di bawah kondisi normal yang bisa mencapai 130 kapal per hari .
- Dualisme Informasi: Beberapa laporan menyebutkan selat kembali ditutup menyusul serangan di Lebanon, namun pihak AS menyangkal hal tersebut dan mengklaim lalu lintas masih berjalan .
Saat ini, ratusan kapal tanker masih tertahan di sekitar kawasan Teluk Persia menunggu kejelasan situasi, sementara risiko penutupan penuh tetap sangat mungkin terjadi jika ketegangan terus meningkat .
Dampak ke Pasar Global
Ketidakpastian ini langsung berdampak pada ekonomi dunia. Harga minyak mentah kembali berfluktuasi dan berpotensi naik tajam karena kekhawatiran akan gangguan pasokan. Negara-negara importir energi, termasuk Indonesia, terus memantau situasi ini dengan cermat untuk memastikan keamanan pasokan dan keselamatan kapal-kapal mereka .
Situasi saat ini masih sangat dinamis. Dunia kini menunggu apakah diplomasi bisa menang, atau justru konflik akan melebar kembali ke skala yang lebih luas.
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya: “Sesungguhnya segala amal tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkan.”
[Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim]