Peduli Kemanusiaan di Palestina We Stand With Palestina
Mari menjaga kepedulian terhadap kehidupan, keselamatan, dan kemanusiaan masyarakat sipil yang terdampak konflik.
Pemilik Bolosego Dyah Laily Fardisa Hadapi Beban Pajak hingga Rp1,5 Miliar, Usaha yang Dibangun dari Nol Kini di Persimpangan
Faarsyam.my.id - Pemilik usaha kuliner Bolosego, Dyah Laily Fardisa atau yang akrab disapa Mbak Dy, kembali menjadi perhatian publik setelah mengungkap persoalan mengenai kewajiban pajak yang menurut pengakuannya harus ditanggung oleh bisnis yang telah dibangunnya sejak masa pandemi Covid-19.
“Bolosego bayar pajak angkanya lumayan besar, di atas Rp500 juta. Tapi apa? Kurang. Mereka ngedor Bolosego untuk bayar di atas Rp1,5 miliar atau Rp1,3 miliar.”
Pernyataan tersebut disampaikan Dyah melalui akun TikTok pribadinya dan kembali ramai diperbincangkan pada September 2026. Dalam keterangannya, ia berusaha menjelaskan bahwa persoalan yang sedang dihadapinya bukan karena keengganan membayar pajak. Ia justru menyebut Bolosego telah mengeluarkan pembayaran pajak dengan nilai lebih dari Rp500 juta.
Yang kemudian menjadi persoalan adalah adanya perhitungan berikutnya yang menurut Dyah membuat kewajiban tersebut berada pada kisaran Rp1,3 miliar hingga Rp1,5 miliar. Angka itu jauh lebih besar dibandingkan nominal yang sebelumnya ia sebut telah dibayarkan.
Perlu dicatat, angka tersebut merupakan keterangan yang disampaikan oleh Dyah dalam unggahan pribadinya. Sejumlah pemberitaan nasional mengutip pernyataan yang sama, tetapi sampai laporan ini disusun belum terdapat dokumen publik yang memberikan rincian lengkap mengenai jenis pajak, periode pajak, dasar penghitungan, maupun surat penetapan yang menjadi dasar angka tersebut. Karena itu, besaran tersebut perlu ditempatkan sebagai klaim atau pengakuan dari pihak pemilik usaha, bukan sebagai angka pajak yang telah diverifikasi secara independen.
Dari Dapur Rumah hingga Mempekerjakan Ratusan Orang
Persoalan tersebut menjadi terasa lebih berat karena Bolosego bukanlah bisnis yang tiba-tiba muncul dalam skala besar. Usaha ini dirintis Dyah pada 2020, ketika pandemi Covid-19 sedang memberikan tekanan besar terhadap kegiatan ekonomi dan banyak usaha harus beradaptasi dengan keadaan yang serba tidak pasti.
Pada masa awal, kegiatan Bolosego dijalankan dari dapur rumah dengan jumlah anggota tim yang masih sangat terbatas. Sejumlah laporan mengenai perjalanan usaha tersebut menyebut tim awalnya hanya berkisar tiga hingga lima orang. Dari ruang usaha yang sederhana itu, Dyah perlahan membangun bisnis kuliner yang kemudian berkembang menjadi usaha dengan jaringan konsumen yang lebih luas.
Perkembangan tersebut juga membawa konsekuensi lain yang sering tidak terlihat dari luar. Ketika sebuah usaha tumbuh, yang bertambah bukan hanya omzet atau jumlah pelanggan, tetapi juga kebutuhan terhadap tenaga kerja, bahan baku, tempat usaha, peralatan, administrasi, distribusi, serta kewajiban yang melekat pada kegiatan bisnis.
Dalam kasus Bolosego, skala tenaga kerja kini disebut telah mencapai sekitar 180 karyawan. Angka tersebut menunjukkan bahwa bisnis yang dahulu bermula dari dapur rumah telah berubah menjadi kegiatan ekonomi yang melibatkan banyak orang. Dengan demikian, persoalan yang dihadapi perusahaan tidak hanya menyangkut pemilik, tetapi juga berkaitan dengan keberlangsungan pekerjaan orang-orang yang menggantungkan pendapatan dari aktivitas usaha tersebut.
Perjalanan Bolosego dalam Angka
Ketika Pertumbuhan Usaha Berhadapan dengan Beban Pajak
Dalam dunia usaha, pajak merupakan bagian dari kewajiban yang harus diperhitungkan bersama biaya operasional lainnya. Semakin besar skala usaha, semakin penting pula pencatatan transaksi, pembukuan, pengelompokan pendapatan, pengeluaran dan kepatuhan administrasi dilakukan secara tertib.
Namun, dari sudut pandang pelaku usaha, besarnya kewajiban pajak juga dapat memengaruhi arus kas. Uang yang harus disediakan untuk memenuhi kewajiban tersebut berasal dari kemampuan finansial bisnis yang sama dengan dana untuk membayar gaji, membeli bahan baku, memperbaiki peralatan, membuka cabang, melakukan pemasaran dan menjaga kegiatan operasional tetap berjalan.
Di sinilah persoalan Bolosego menjadi menarik untuk dilihat secara lebih luas. Perdebatan mengenai pajak tidak semestinya hanya berhenti pada nominal yang disebutkan oleh pemilik. Hal yang lebih penting adalah mengetahui bagaimana angka tersebut terbentuk, pajak apa saja yang diperhitungkan, periode yang digunakan, serta apakah terdapat perbedaan antara pembayaran yang sudah dilakukan dengan kewajiban yang kemudian dihitung kembali.
Transparansi mengenai dasar penghitungan akan membuat persoalan menjadi lebih mudah dipahami publik. Di satu sisi, negara mempunyai kepentingan memastikan setiap wajib pajak memenuhi kewajibannya sesuai aturan. Di sisi lain, pelaku usaha membutuhkan kepastian mengenai jumlah kewajiban yang harus dibayar sehingga dapat menyusun perencanaan bisnis dengan lebih sehat.
Dyah Sempat Berpikir Melepas Aset
Besarnya angka yang ia sebut membuat Dyah mengaku berada pada kondisi yang sangat sulit. Dalam video tersebut, ia bahkan menyampaikan bahwa dirinya sempat berada pada titik ketika semua aset usaha terasa tidak lagi menjadi sesuatu yang harus dipertahankan mati-matian.
Ia mengungkapkan pemikiran untuk menyerahkan aset yang dimiliki Bolosego dan kemudian kembali membangun bisnis dari awal. Pernyataan tersebut memperlihatkan tekanan yang dirasakan seorang pemilik usaha ketika kewajiban finansial dipandang semakin berat dibandingkan kemampuan bisnis untuk menanggungnya.
Bagi sebuah perusahaan yang baru tumbuh, persoalan arus kas dapat menjadi sangat menentukan. Sebuah usaha bisa terlihat ramai dari luar, memiliki banyak pelanggan dan mempekerjakan banyak orang, tetapi tetap menghadapi persoalan likuiditas apabila kewajiban yang jatuh tempo tidak seimbang dengan uang yang tersedia.
Kondisi semacam ini juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah UMKM tidak selalu dapat diukur hanya dari popularitas merek atau ramainya pelanggan. Di belakang sebuah gerai makanan terdapat rangkaian perhitungan yang panjang, mulai dari harga bahan baku sampai gaji karyawan dan kewajiban kepada negara.
Bolosego dan Harapan untuk Tetap Bertahan
Terlepas dari polemik angka pajak tersebut, perjalanan Bolosego memperlihatkan bagaimana sebuah usaha kecil dapat berkembang ketika dikelola secara berkelanjutan. Dari dapur rumah dengan tim yang hanya beberapa orang, usaha itu kemudian tumbuh dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi sekitar 180 orang.
Karena itu, persoalan yang disampaikan Dyah tidak hanya dapat dilihat sebagai keluhan seorang pengusaha terhadap besarnya tagihan. Ada dimensi keberlangsungan bisnis yang ikut berada di dalamnya. Ketika sebuah usaha berhenti, dampaknya tidak hanya dirasakan pemilik, tetapi juga karyawan, pemasok, mitra usaha dan lingkungan ekonomi di sekitarnya.
Namun pada saat yang sama, kewajiban perpajakan tetap merupakan bagian dari aktivitas bisnis yang harus diselesaikan berdasarkan aturan yang berlaku. Jalan keluarnya justru berada pada kejelasan perhitungan, komunikasi antara wajib pajak dan otoritas, serta penyelesaian administrasi berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kasus Bolosego menjadi contoh bahwa pertumbuhan bisnis membawa tantangan baru yang berbeda dari persoalan ketika usaha baru dimulai. Jika dahulu tantangannya adalah bagaimana mendapatkan pelanggan dan mempertahankan penjualan, ketika bisnis sudah membesar persoalannya dapat bergeser menjadi bagaimana menjaga struktur keuangan, tenaga kerja, administrasi dan kewajiban usaha tetap seimbang.
Harapan Dyah saat ini adalah agar persoalan tersebut dapat menemukan jalan keluar tanpa harus menghapus perjalanan panjang yang telah dibangun sejak 2020. Bolosego yang tumbuh dari dapur rumah hingga memiliki sekitar 180 karyawan menjadi bagian penting dari cerita tersebut.
Di tengah perbincangan mengenai nominal pajak, satu hal yang tidak boleh hilang adalah kebutuhan terhadap informasi yang terang. Publik berhak mengetahui perkembangan kasusnya, sementara pemilik usaha berhak memperoleh kejelasan mengenai dasar kewajiban yang dibebankan kepadanya. Dengan informasi yang terbuka, persoalan dapat dibahas berdasarkan angka dan dokumen, bukan sekadar berdasarkan potongan pernyataan yang beredar di media sosial.
Jadi Intinya...
#Bolosego #DyahLailyFardisa #PajakUsaha #UMKM #Yogyakarta #BisnisKuliner
Cegah Karhutla — Lindungi Hutan & Lahan PEDULI HUTAN
Waspada musim kemarau, cegah api sejak dini demi udara bersih dan masa depan bumi!

Komentar
Posting Komentar
Apa Yang Anda Pikirkan...?