Iklan Atas Header
Langsung ke konten utama

JALAN YANG LURUS NAMUN BANYAK YANG MEMILIH JALAN YANG BERLIKU

STOP
KEBAKARAN

Cegah Karhutla — Lindungi Hutan & Lahan PEDULI HUTAN

Waspada musim kemarau, cegah api sejak dini demi udara bersih dan masa depan bumi!

FAARSYAM

Ketika Jalan Lurus Sudah Ditunjukkan, Mengapa Manusia Masih Memilih Belokan?

Allah telah menunjukkan jalan yang lurus, tetapi manusia tetap diberi pilihan untuk mengikutinya atau berpaling. Iblis tidak menciptakan jalan kesesatan dari awal. Ia menunggu di jalan yang lurus, membisikkan godaan, lalu manusia sendiri yang menentukan langkah berikutnya.

“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah. Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.”
QS Al-An'am 6:153

faarsyam.my.id

Ada pertanyaan yang sederhana, tetapi semakin direnungkan justru semakin dalam.

Jika sebuah jalan sudah dibuat lurus, mengapa manusia masih membuat belokannya sendiri?

Jika arah sudah ditunjukkan, mengapa manusia mencari arah lain?

Jika manusia sudah diperingatkan tentang bahaya di perjalanan, mengapa sebagian justru berjalan menuju rintangan yang sebenarnya dapat mereka hindari?

Pertanyaan seperti ini tidak hanya berbicara tentang kehidupan sehari hari. Dalam perspektif Islam, pertanyaan tersebut menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam, yaitu hubungan antara manusia, jalan yang lurus, hawa nafsu, godaan setan, dan pilihan yang dibuat manusia sendiri.

Al-Qur'an bahkan sudah memberikan gambaran yang sangat jelas tentang persoalan ini.

Jalan lurus itu memang ada

Dalam Al-Qur'an, Allah tidak membiarkan manusia berjalan tanpa petunjuk.

Dalam QS Al-An'am ayat 153, Allah menyatakan bahwa jalan-Nya adalah jalan yang lurus dan memerintahkan manusia untuk mengikutinya. Pada ayat yang sama, manusia juga diperingatkan agar tidak mengikuti jalan-jalan lain karena jalan tersebut akan memisahkan manusia dari jalan-Nya.

Ini menjadi dasar penting untuk memahami pembicaraan kita.

Manusia bukan berada di dunia tanpa arah.

Ada petunjuk.

Ada perintah.

Ada larangan.

Ada jalan yang dijelaskan.

Ada pula peringatan tentang jalan yang dapat membawa manusia menjauh.

Bahkan rangkaian ayat sebelum QS Al-An'am ayat 153 menjelaskan sejumlah perintah yang sangat mendasar, termasuk menjauhi perbuatan keji, menjaga jiwa, menjaga harta anak yatim, berlaku adil dalam takaran dan timbangan, serta berlaku adil dalam kesaksian. Kemudian datang pernyataan tentang jalan Allah yang lurus.

Artinya, jalan lurus bukan sekadar istilah yang terdengar indah.

Ia berkaitan dengan bagaimana manusia menjalani kehidupannya.

Tetapi justru di jalan lurus itulah Iblis menunggu

Ada sesuatu yang menarik dalam kisah Iblis.

Ketika Iblis menyatakan permusuhannya terhadap manusia, ia tidak mengatakan akan menunggu manusia di tempat yang tidak berhubungan dengan jalan kebenaran.

Dalam QS Al-A'raf ayat 16, Iblis mengatakan bahwa ia akan duduk menunggu manusia di jalan Allah yang lurus. Kemudian pada ayat berikutnya ia mengatakan akan mendatangi manusia dari berbagai arah.

Kalimat ini seharusnya membuat manusia berpikir.

Mengapa Iblis menunggu di jalan yang lurus?

Karena tujuannya bukan sekadar membuat manusia melakukan satu kesalahan.

Tujuannya adalah membuat manusia meninggalkan arah yang benar.

Iblis tidak perlu menghancurkan jalan Allah.

Ia hanya perlu membuat manusia memilih jalan lain.

Dan di sinilah sebuah renungan menjadi sangat penting.

Iblis dapat menunjukkan belokan, tetapi manusia yang memutuskan untuk mengambilnya.

Iblis menggoda, tetapi tidak memiliki kuasa untuk memaksa

Al-Qur'an memberikan penjelasan yang sangat tegas mengenai hal ini.

Dalam QS Ibrahim ayat 22, ketika seluruh perkara telah diputuskan, Iblis mengatakan bahwa ia tidak mempunyai kekuasaan untuk memaksa manusia. Ia hanya mengajak, kemudian manusia memenuhi ajakannya.

Ini adalah bagian yang sering terlupakan ketika manusia membicarakan dosa.

Manusia terkadang berkata bahwa dirinya jatuh karena setan.

Padahal Al-Qur'an memberikan gambaran yang lebih bertanggung jawab.

Setan mengajak.

Manusia merespons.

Setan membisikkan.

Manusia memilih.

Setan menawarkan.

Manusia mengambil.

Karena itu Iblis sendiri, dalam gambaran Al-Qur'an, tidak menerima alasan manusia yang menyalahkannya sepenuhnya.

Ia justru mengatakan bahwa manusia harus menyalahkan dirinya sendiri karena mengikuti ajakannya.

Dengan demikian, manusia mempunyai tanggung jawab terhadap langkah yang dipilihnya.

Dari satu langkah menjadi sebuah jalan

Di sinilah kita kembali kepada pertanyaan awal.

Mengapa manusia membuat belokan sendiri?

Mungkin karena sebuah belokan sering kali tidak terlihat seperti kesesatan pada awalnya.

Satu kebohongan dapat terlihat kecil.

Satu ketidakadilan dapat dianggap sepele.

Satu pengkhianatan dapat dicari pembenarannya.

Satu kesombongan dapat dianggap sebagai harga diri.

Satu keserakahan dapat disebut sebagai ambisi.

Satu kebencian dapat dianggap sebagai perjuangan.

Masalahnya adalah ketika satu langkah terus diikuti dengan langkah berikutnya, manusia akhirnya tidak lagi berada di tempat semula.

Ia sudah membuat jalan baru.

Karena itu Al-Qur'an memperingatkan manusia agar tidak mengikuti langkah-langkah setan.

Peringatan tersebut terdapat antara lain dalam QS Al-Baqarah ayat 168 dan QS An-Nur ayat 21.

Kata langkah menjadi penting.

Kesesatan tidak selalu datang dalam bentuk sebuah jurang yang langsung terlihat.

Kadang ia datang sebagai langkah kecil yang dianggap tidak akan membawa ke mana mana.

Kemudian langkah berikutnya menjadi lebih mudah.

Dan langkah berikutnya lagi menjadi kebiasaan.

Pada akhirnya sesuatu yang dahulu dianggap salah dapat terasa biasa.

Lalu muncul pertanyaan yang lebih mengerikan

Apakah manusia bisa tersesat sedemikian jauh sampai tidak lagi membutuhkan bisikan Iblis untuk melakukan kesalahan?

Al-Qur'an memberikan gambaran tentang manusia yang memiliki hati tetapi tidak digunakan untuk memahami, memiliki mata tetapi tidak digunakan untuk melihat, dan memiliki telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar. Dalam QS Al-A'raf ayat 179, mereka digambarkan sebagai manusia yang lebih sesat.

Ini bukan berarti Iblis menjadi pencipta kesesatan manusia.

Justru ayat tersebut menunjukkan betapa seriusnya tanggung jawab manusia terhadap kemampuan yang telah diberikan kepadanya.

Manusia memiliki akal.

Manusia memiliki hati.

Manusia memiliki kemampuan melihat dan mendengar.

Manusia menerima petunjuk.

Namun semuanya dapat disalahgunakan atau diabaikan.

Maka kesesatan bukan hanya persoalan seseorang tidak mengetahui kebenaran.

Ada keadaan ketika seseorang sudah mendapatkan petunjuk, tetapi memilih untuk tidak mengikutinya.

Apakah Iblis bisa sampai terkejut melihat manusia?

Ini adalah bagian yang perlu kita luruskan agar editorial keislaman tidak berubah menjadi cerita tanpa dasar.

Tidak ada ayat Al-Qur'an yang mengatakan bahwa Iblis akan terkejut melihat manusia yang kesesatannya melampaui apa yang ia bayangkan.

Tidak ada pula hadis sahih yang menyatakan bahwa Iblis akan berkata bahwa manusia tertentu bahkan membuatnya kaget karena terlalu sesat.

Kalimat seperti itu boleh digunakan sebagai perumpamaan dalam tulisan, tetapi tidak boleh kita katakan sebagai perkataan Al-Qur'an atau hadis.

Yang memiliki dasar adalah bahwa Iblis memang berusaha menyesatkan manusia dari jalan yang lurus, sementara manusia tetap mempunyai pilihan dan tanggung jawab atas tindakannya.

Jadi jika kita mengatakan bahwa ada manusia yang kesesatannya seolah olah membuat Iblis sendiri tercengang, itu harus dipahami sebagai bahasa reflektif.

Bukan sebagai hadis.

Bukan sebagai ayat.

Bukan sebagai kisah yang dinisbatkan kepada Rasulullah.

Jalan lurus tidak berarti manusia tidak akan pernah salah

Ini juga penting.

Jalan lurus bukan berarti seseorang tidak pernah melakukan kesalahan.

Manusia tetap manusia.

Ia bisa jatuh.

Ia bisa tergelincir.

Ia bisa menyesal.

Ia bisa melakukan dosa.

Tetapi persoalannya adalah apakah setelah tergelincir manusia mau kembali.

Kesalahan dan kesesatan bukan selalu hal yang sama.

Seseorang dapat melakukan kesalahan kemudian menyadarinya.

Seseorang dapat berdosa kemudian bertobat.

Seseorang dapat tersesat kemudian mencari jalan pulang.

Yang menjadi persoalan besar adalah ketika seseorang mulai membela kesalahannya, menganggap kesalahannya benar, kemudian mengajak orang lain mengikuti jalan yang sama.

Pada titik itulah belokan kecil dapat berubah menjadi jalan baru.

Mengapa manusia bisa memilih jalan yang salah?

Jawabannya tidak selalu sederhana.

Manusia memiliki hawa nafsu.

Manusia memiliki kepentingan.

Manusia memiliki keinginan.

Manusia juga mudah tertipu oleh sesuatu yang terlihat menguntungkan dalam waktu singkat.

Jalan lurus terkadang meminta kesabaran.

Jalan lurus terkadang meminta kejujuran ketika kebohongan lebih menguntungkan.

Jalan lurus terkadang meminta seseorang mengakui kesalahan ketika mempertahankan gengsi terasa lebih mudah.

Jalan lurus terkadang membuat seseorang harus kehilangan sesuatu yang sebenarnya ia cintai.

Sementara jalan yang salah dapat terlihat lebih mudah pada awalnya.

Di situlah godaan bekerja.

Namun sekali lagi, keputusan akhirnya tetap berada pada manusia.

Bahkan Iblis mengakui adanya pilihan

Ini mungkin salah satu bagian paling penting dari pembahasan kita.

Dalam QS Ibrahim ayat 22, Iblis tidak mengatakan bahwa ia memaksa manusia.

Ia mengatakan bahwa dirinya hanya mengajak dan manusia menjawab ajakan tersebut.

Dengan demikian, manusia tidak boleh menjadikan setan sebagai kambing hitam untuk seluruh kehidupannya.

Karena manusia juga diberikan kemampuan untuk berkata tidak.

Manusia dapat menolak.

Manusia dapat berhenti.

Manusia dapat berbalik.

Manusia dapat bertobat.

Manusia dapat kembali ke jalan yang lurus.

Mengapa kita setiap hari meminta jalan yang lurus?

Ada sesuatu yang sangat indah dalam QS Al-Fatihah.

Setiap hari seorang Muslim berulang kali membaca permohonan:

Ihdinash shirathal mustaqim.

Tunjukilah kami jalan yang lurus.

Jika jalan lurus sudah ada, mengapa masih harus meminta petunjuk?

Karena mengetahui arah tidak selalu berarti mampu bertahan di dalamnya.

Manusia dapat mengetahui kebenaran tetapi tergoda meninggalkannya.

Manusia dapat mengetahui larangan tetapi tetap mendekatinya.

Manusia dapat mengetahui akibat tetapi tetap memilihnya.

Karena itu permintaan petunjuk bukan hanya permintaan untuk mengetahui jalan.

Ia juga merupakan permintaan agar manusia tetap diarahkan di atas jalan tersebut.

Jangan sampai manusia sendiri yang membangun rintangannya

Kita kembali kepada gambaran awal.

Bayangkan ada sebuah jalan lurus.

Jalannya sudah jelas.

Petunjuk sudah diberikan.

Rambu sudah tersedia.

Peringatan sudah disampaikan.

Namun manusia kemudian membangun sebuah belokan.

Setelah itu ia membuat jalan yang baru.

Kemudian ia memasang rambu yang mengatakan bahwa jalan buatannya adalah jalan yang benar.

Setelah itu ia mengajak orang lain untuk mengikutinya.

Inilah bagian yang perlu kita renungkan.

Jangan sampai manusia bukan hanya tersesat, tetapi mulai membuat kesesatan terlihat seperti petunjuk.

Karena ketika seseorang sudah sampai pada tahap itu, persoalannya bukan lagi sekadar tidak tahu jalan pulang.

Ia mungkin sudah tidak mau mengakui bahwa dirinya sedang jauh dari jalan pulang.

Jalan lurus tetap terbuka

Namun tulisan ini tidak seharusnya berakhir dengan ketakutan.

Islam bukan hanya berbicara tentang godaan.

Islam juga berbicara tentang petunjuk, ampunan, dan jalan kembali.

Manusia mungkin pernah mengambil belokan.

Mungkin pernah jatuh.

Mungkin pernah salah arah.

Tetapi selama kehidupan belum berakhir, manusia masih mempunyai kesempatan untuk kembali kepada Allah.

Itulah sebabnya kita tidak seharusnya merasa aman dari godaan, tetapi juga tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah.

Jalan lurus tidak menjadi tidak ada hanya karena manusia pernah meninggalkannya.

Yang diperlukan adalah keberanian untuk kembali.

Penutup

Dari pembahasan ini saya sampai pada satu renungan.

Iblis tidak perlu menghancurkan jalan yang lurus.

Ia hanya perlu menunggu di sana.

Kemudian membisikkan satu alasan.

Satu keinginan.

Satu pembenaran.

Satu langkah.

Setelah itu manusia sendiri yang menentukan langkah berikutnya.

Karena itu, mungkin bahaya terbesar bukan ketika seseorang tidak mengetahui jalan yang lurus.

Bahaya yang lebih besar adalah ketika seseorang sudah mengetahuinya, tetapi terus menerus memilih belokan sampai akhirnya lupa bahwa ia pernah berada di jalan tersebut.

Al-Qur'an sudah mengingatkan kita bahwa jalan Allah adalah jalan yang lurus dan manusia diperintahkan mengikutinya. Manusia juga diperingatkan agar tidak mengikuti jalan-jalan lain yang dapat menjauhkannya dari jalan Allah.

Sementara Iblis sendiri telah menyatakan bahwa ia akan menunggu manusia di jalan yang lurus untuk menyesatkan mereka.

Tetapi pada akhirnya, Iblis tidak memegang kendali penuh atas manusia.

Ia mengajak.

Manusia memilih.

Maka pertanyaan terbesar dalam kehidupan mungkin bukan lagi siapa yang sedang menggoda kita.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Ketika kita tahu mana jalan yang lurus, ke arah mana sebenarnya kita sedang memilih untuk berjalan?

Karena jalan itu sudah ditunjukkan.

Yang masih menjadi rahasia adalah pilihan langkah kita berikutnya.

STOP
KEBAKARAN

Cegah Karhutla — Lindungi Hutan & Lahan PEDULI HUTAN

Waspada musim kemarau, cegah api sejak dini demi udara bersih dan masa depan bumi!

FAARSYAM

Komentar