Cegah Karhutla — Lindungi Hutan & Lahan PEDULI HUTAN
Waspada musim kemarau, cegah api sejak dini demi udara bersih dan masa depan bumi!
![]() |
| Ilustrasi proses belajar mengajar |
Internet bukan lagi ruang yang jauh dari kehidupan anak-anak. Ia sudah masuk ke ruang belajar, percakapan sehari-hari, pencarian informasi, hingga cara mereka mengenal dunia. Karena itu, mengajarkan anak menggunakan internet seharusnya tidak berhenti pada kemampuan membuka aplikasi, tetapi juga membentuk kemampuan untuk berpikir sebelum percaya, berhati-hati sebelum berbagi, dan memahami bahwa setiap aktivitas digital memiliki konsekuensi.
Faarsyam.my.id - Kehadiran internet di lingkungan pendidikan membawa peluang yang besar sekaligus tanggung jawab yang tidak kecil. Anak-anak dapat memperoleh bahan belajar dalam hitungan detik, menemukan pengetahuan yang sebelumnya sulit dijangkau, berkomunikasi dengan orang lain, bahkan mengembangkan kreativitas melalui berbagai platform digital. Namun, kemudahan tersebut berjalan beriringan dengan risiko yang semakin beragam.
Hal inilah yang membuat kegiatan edukasi “Belajar Aman di Internet” yang dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pendidikan atau KKN-DIK Universitas Muhammadiyah Makassar di Kabupaten Barru menjadi menarik untuk dilihat lebih jauh. Berdasarkan laporan Berita Unismuh Makassar, kegiatan tersebut dilaksanakan secara bertahap pada 24 Agustus hingga 7 September 2026 dan menyasar enam sekolah di Kelurahan Tanete, Kecamatan Tanete Rilau.
Enam sekolah yang menjadi sasaran kegiatan tersebut yakni SDN 47 Barru, SDN 48 Barru, SDN 49 Barru, MI DDI Bottoe, MTs Al-Munawwarah Maddo, serta MA Al-Munawwarah Bottoe. Materi yang diberikan mencakup penggunaan internet secara aman dan bertanggung jawab, pengenalan informasi bohong, etika berkomunikasi di ruang digital, perlindungan data pribadi, serta kewaspadaan terhadap tautan yang mencurigakan. Sumber utama: Berita Unismuh Makassar, 21 September 2026.
Internet Bukan Sekadar Persoalan Bisa Mengakses
Di tengah semakin mudahnya akses terhadap internet, ukuran kecakapan digital tidak semestinya hanya dilihat dari seberapa cepat seorang anak menggunakan telepon pintar atau memahami sebuah aplikasi. Kemampuan yang jauh lebih penting justru muncul ketika anak berhadapan dengan informasi yang belum tentu benar, permintaan data pribadi, pesan dari orang yang tidak dikenal, atau tautan yang tampak meyakinkan tetapi dapat membawa pengguna ke halaman berbahaya.
Persoalan tersebut semakin relevan karena anak tidak selalu mempunyai pengalaman yang cukup untuk membedakan mana informasi yang layak dipercaya dan mana yang perlu diperiksa kembali. Kementerian Komunikasi dan Digital pada 2026 juga menekankan bahwa informasi palsu, penipuan digital, serta konten yang dimanipulasi menggunakan kecerdasan artifisial semakin sulit dikenali. Pemerintah bahkan menempatkan guru dan orang tua sebagai bagian penting dalam pendampingan anak di ruang digital.
Dengan kondisi tersebut, edukasi internet aman di sekolah tidak semestinya dipandang sebagai kegiatan tambahan yang hanya dilakukan ketika mahasiswa KKN hadir. Materinya justru dapat menjadi bagian dari kebiasaan pendidikan sehari-hari karena anak berhadapan dengan dunia digital hampir bersamaan dengan aktivitas belajar mereka.
Dari Barru, Literasi Digital Menjadi Pelajaran Kehidupan
Ada hal penting dari kegiatan mahasiswa KKN-DIK di Tanete. Edukasi tersebut tidak hanya berbicara mengenai teknologi, tetapi juga menyentuh perilaku manusia ketika berada di balik layar. Anak diajak memahami bahwa cara berbicara di internet tetap membutuhkan etika, informasi yang diterima perlu diperiksa, data pribadi tidak boleh diberikan sembarangan, dan tautan yang mencurigakan tidak seharusnya dibuka tanpa pertimbangan.
Pendekatan semacam ini menjadi penting karena ruang digital sering membuat batas antara tindakan pribadi dan dampak terhadap orang lain terasa lebih tipis. Sebuah pesan dapat diteruskan dalam hitungan detik. Sebuah foto dapat disimpan orang lain. Informasi yang keliru dapat menyebar jauh lebih cepat dibandingkan proses untuk meluruskannya.
Karena itu, literasi digital seharusnya tidak hanya menghasilkan anak yang mampu menggunakan perangkat, tetapi juga anak yang mampu menahan diri. Tidak semua informasi harus dibagikan. Tidak semua tautan perlu diklik. Tidak semua akun yang terlihat meyakinkan harus dipercaya.
Hoaks Bisa Masuk dari Layar yang Terlihat Biasa
Salah satu bagian penting dalam kegiatan di Barru adalah pengenalan terhadap informasi bohong atau hoaks. Materi ini menjadi semakin relevan karena bentuk informasi palsu terus berubah. Dahulu masyarakat mungkin lebih mudah mengenalinya dari judul yang berlebihan atau sumber yang tidak jelas. Kini, perkembangan teknologi memungkinkan gambar, suara, video, dan tulisan dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat meyakinkan.
Kementerian Komunikasi dan Digital pada Agustus 2026 juga mengingatkan bahwa pelajar menghadapi lingkungan digital yang dipenuhi tantangan seperti hoaks, penipuan digital, dan manipulasi konten berbasis AI. Pelajar didorong untuk memeriksa informasi sebelum membagikannya.
Dalam konteks pendidikan, kebiasaan sederhana seperti bertanya mengenai siapa yang membuat informasi, dari mana sumbernya, kapan informasi tersebut dibuat, serta apakah terdapat sumber lain yang dapat menguatkannya dapat menjadi latihan berpikir kritis. Kebiasaan tersebut jauh lebih berharga dibandingkan sekadar menghafal istilah hoaks.
Data Pribadi Bukan Bahan untuk Dibagikan Sembarangan
Persoalan berikutnya adalah perlindungan data pribadi. Anak mungkin menganggap nama lengkap, foto, nomor telepon, alamat, nama sekolah atau informasi mengenai keluarga sebagai hal biasa. Padahal, ketika informasi tersebut dikumpulkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, risikonya dapat menjadi lebih besar.
Karena itu, pelajaran mengenai keamanan internet perlu dibuat sedekat mungkin dengan kehidupan anak. Mereka tidak hanya perlu diberi tahu agar tidak membagikan data pribadi, tetapi juga memahami alasan di balik larangan tersebut. Anak perlu mengetahui bahwa tidak semua orang yang mengirim pesan mempunyai tujuan baik dan tidak semua permintaan informasi harus dilayani.
Kementerian Komunikasi dan Digital sendiri menempatkan perlindungan anak sebagai bagian penting dari tata kelola ruang digital. Pemerintah menyatakan bahwa tujuan kebijakan perlindungan anak bukan sekadar melarang akses internet, melainkan memastikan anak dapat menggunakan ruang digital dengan perlindungan terhadap berbagai risiko.
Sekolah, Orang Tua dan Mahasiswa Punya Peran Berbeda
Kegiatan KKN-DIK di enam sekolah Barru juga memperlihatkan bahwa persoalan keamanan internet tidak dapat dibebankan hanya kepada satu pihak. Mahasiswa dapat memberikan edukasi, guru dapat mendampingi proses belajar, orang tua dapat mengawasi penggunaan perangkat di rumah, sementara platform digital dan pemerintah memiliki tanggung jawab dalam menciptakan ekosistem yang lebih aman.
Berita Unismuh Makassar mencatat kegiatan tersebut didampingi Dosen Pembimbing Lapangan Muhammad Saeful, S.Pd., M.Pd. dan Dr Muhammad Arief Muhsin. Materi disesuaikan dengan jenjang pendidikan peserta, mulai dari tingkat sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah hingga tingkat madrasah aliyah.
Pendekatan berdasarkan usia menjadi hal yang masuk akal karena kebutuhan anak SD tentu berbeda dengan kebutuhan siswa madrasah aliyah. Anak yang baru mengenal internet membutuhkan bahasa sederhana dan contoh yang dekat dengan kesehariannya. Sementara siswa yang lebih besar dapat diajak memahami persoalan yang lebih kompleks, termasuk jejak digital, manipulasi informasi, keamanan akun dan konsekuensi dari aktivitas di media sosial.
Komdigi juga menekankan bahwa anak tidak cukup hanya diberikan akses internet. Mereka membutuhkan pendampingan agar mampu mengenali informasi palsu, penipuan digital, serta konten yang dimanipulasi menggunakan AI.
Yang Dibutuhkan Bukan Ketakutan, Melainkan Kebiasaan
Menurut pandangan editorial Faarsyam.my.id, pendidikan internet aman akan lebih efektif apabila tidak dibangun dengan pendekatan yang membuat anak takut terhadap teknologi. Internet bukan musuh. Teknologi juga bukan sesuatu yang harus dijauhkan sepenuhnya dari anak.
Yang dibutuhkan adalah kebiasaan menggunakan teknologi dengan kesadaran. Anak perlu memahami kapan harus berhenti, kapan harus bertanya kepada orang dewasa, kapan harus memeriksa informasi, serta kapan harus menolak permintaan seseorang di internet.
Pandangan tersebut sejalan dengan pesan Komdigi bahwa anak tetap dapat memanfaatkan internet untuk belajar, menemukan minat, mengembangkan kreativitas dan memperoleh informasi, selama penggunaannya disertai pendampingan dan perlindungan yang memadai.
Dalam konteks Barru, kegiatan mahasiswa KKN-DIK dapat menjadi contoh bahwa pendidikan keamanan digital tidak harus selalu menunggu program berskala besar. Edukasi dapat dimulai dari ruang kelas, kemudian dilanjutkan di rumah dan lingkungan masyarakat. Yang terpenting adalah kesinambungan.
Jika seorang siswa hari ini belajar untuk tidak sembarangan mengklik tautan, memeriksa informasi sebelum membagikannya, menjaga data pribadi dan berbicara dengan sopan di ruang digital, maka pelajaran tersebut sebenarnya sedang membentuk kebiasaan yang akan dibawanya jauh setelah kegiatan KKN berakhir.
Catatan pentingnya adalah kegiatan semacam ini tidak berhenti pada satu kali pertemuan. Internet berubah sangat cepat. Bentuk penipuan berubah, pola komunikasi berubah, aplikasi baru muncul, dan teknologi AI terus berkembang. Karena itu, kemampuan menjaga diri di internet juga perlu terus diperbarui.
Enam sekolah di Kelurahan Tanete telah menjadi ruang bagi mahasiswa KKN-DIK untuk membawa pesan tersebut langsung kepada peserta didik. Apa yang dilakukan di sana pada akhirnya bukan hanya soal mengajarkan cara aman menggunakan internet, tetapi juga mengajarkan satu kebiasaan penting dalam kehidupan modern, yaitu berpikir sebelum bertindak di ruang digital.
Jadi Intinya...
Edukasi menyasar enam sekolah di Kelurahan Tanete, Barru, dengan materi keamanan internet, hoaks, etika digital, perlindungan data pribadi dan kewaspadaan terhadap tautan mencurigakan.
Literasi digital membutuhkan pendampingan karena anak tidak cukup hanya mampu menggunakan perangkat. Mereka juga perlu memahami risiko dan konsekuensi setiap aktivitas di ruang digital.
Kebiasaan aman harus dibangun bersama melalui sekolah, keluarga, masyarakat, pemerintah dan platform digital agar internet tetap menjadi ruang belajar dan berkembang yang lebih aman bagi anak.
Cegah Karhutla — Lindungi Hutan & Lahan PEDULI HUTAN
Waspada musim kemarau, cegah api sejak dini demi udara bersih dan masa depan bumi!

Komentar
Posting Komentar
Apa Yang Anda Pikirkan...?