Iklan Atas Header
Langsung ke konten utama

Makan Dari Tabungan Berubah Jadi Makan Dari Utang

STOP
KEBAKARAN

Cegah Karhutla — Lindungi Hutan & Lahan PEDULI HUTAN

Waspada musim kemarau, cegah api sejak dini demi udara bersih dan masa depan bumi!

FAARSYAM


Ketika tabungan yang seharusnya menjadi penyangga masa depan mulai digunakan untuk membiayai kebutuhan hari ini, persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana masyarakat menabung, tetapi bagaimana mereka bertahan sampai akhir bulan.

Dari Makan Tabungan Menjadi Makan Utang

Faarsyam.my.id - Ada perubahan yang perlahan terasa dalam cara sebagian masyarakat Indonesia bertahan menghadapi kehidupan sehari hari. Dahulu ketika penghasilan tidak cukup, tabungan menjadi tempat pertama untuk mengambil uang. Kini, ketika tabungan semakin tipis atau bahkan telah habis, muncul pilihan lain yang jauh lebih mudah dijangkau. Berutang.

Perubahan ini tidak berarti seluruh masyarakat Indonesia sudah hidup dari utang. Kenyataannya tentu jauh lebih beragam. Ada rumah tangga yang masih mampu menabung, ada yang memiliki aset dan cadangan keuangan, dan ada pula yang menggunakan pinjaman untuk kebutuhan produktif. Namun, data ekonomi beberapa tahun terakhir memperlihatkan adanya tekanan yang patut diperhatikan, terutama ketika porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan meningkat sementara kemampuan menyimpan uang menjadi lebih terbatas.

Bank Indonesia melalui Survei Konsumen Januari 2025 mencatat bahwa porsi pendapatan rumah tangga yang digunakan untuk membayar cicilan pinjaman mencapai 11,1 persen. Angka itu meningkat dari 10,5 persen pada Desember 2024. Pada saat yang sama, porsi pendapatan yang disimpan sebagai tabungan berada di 15,3 persen, turun dari 15,5 persen pada bulan sebelumnya. Bank Indonesia juga mencatat peningkatan porsi pembayaran cicilan pada berbagai kelompok tingkat pengeluaran.

Angka tersebut memang belum dapat diterjemahkan sebagai bukti bahwa masyarakat Indonesia secara keseluruhan telah menggunakan utang untuk membeli kebutuhan pokok. Namun, angka tersebut memberikan sebuah sinyal tentang perubahan arus uang rumah tangga. Sebagian pendapatan yang sebelumnya dapat disimpan atau digunakan secara lebih leluasa kini harus dialokasikan untuk memenuhi kewajiban pembayaran pinjaman.



Di sinilah persoalan mulai menjadi lebih serius.

Seseorang tidak selalu berutang karena ingin hidup mewah. Dalam banyak keadaan, utang muncul karena kebutuhan tidak bisa ditunda. Tagihan listrik harus dibayar. Biaya sekolah harus tersedia. Kendaraan diperlukan untuk bekerja. Rumah harus tetap dibayar. Makanan harus tersedia setiap hari. Ketika pendapatan tidak cukup dan tabungan tidak lagi mampu menutup kekurangan, seseorang akan mencari sumber uang lain.

Masalahnya menjadi semakin rumit ketika pengeluaran tetap sudah terlalu besar dibandingkan ruang yang tersedia dari pendapatan.

Pendapatan seseorang mungkin masih terlihat cukup jika hanya dilihat dari jumlah nominalnya. Namun setelah dikurangi sewa atau cicilan rumah, kendaraan, listrik, internet, pendidikan, transportasi, makanan dan kebutuhan keluarga, uang yang tersisa bisa menjadi sangat kecil. Ketika muncul kebutuhan mendadak, tabungan menjadi sasaran pertama.

Jika keadaan tersebut terjadi satu atau dua kali, mungkin belum menjadi persoalan besar. Tetapi jika berlangsung berbulan bulan, tabungan perlahan berubah dari dana masa depan menjadi dana untuk bertahan hidup.

Ketika tabungan habis, persoalan memasuki tahap berikutnya.

Masyarakat kini hidup dalam sistem keuangan yang membuat pinjaman semakin mudah dijangkau. Kartu kredit, cicilan digital, layanan buy now pay later dan pinjaman berbasis teknologi membuat kebutuhan hari ini dapat dibayar menggunakan penghasilan masa depan.

Kemudahan tersebut pada satu sisi memberikan akses keuangan yang lebih luas. Namun pada sisi lain, kemudahan memperoleh pinjaman juga membuat jarak antara kebutuhan dan kemampuan membayar menjadi semakin pendek.

Otoritas Jasa Keuangan mencatat baki debet kredit buy now pay later perbankan pada Desember 2024 mencapai Rp22,12 triliun. Nilainya tumbuh 43,76 persen secara tahunan dengan jumlah rekening mencapai 23,99 juta. Pada Januari 2025, nilainya kembali meningkat menjadi Rp22,57 triliun dan pertumbuhan tahunannya mencapai 46,45 persen dengan 24,44 juta rekening.

Pertumbuhan tersebut tidak berarti seluruh pengguna buy now pay later sedang mengalami kesulitan ekonomi. Layanan tersebut dapat digunakan untuk berbagai keperluan dan oleh kelompok masyarakat dengan kondisi ekonomi yang berbeda. Namun pertumbuhan yang tinggi menunjukkan bahwa mekanisme pembayaran menggunakan penghasilan masa depan semakin menjadi bagian dari kehidupan finansial masyarakat.

Pada saat yang sama, kelompok yang berada di sekitar kelas menengah memiliki posisi yang sangat penting dalam perekonomian nasional. Badan Pusat Statistik mencatat kelompok kelas menengah dan masyarakat yang menuju kelas menengah mencapai 66,35 persen dari populasi pada 2024. Kelompok tersebut menyumbang 81,49 persen dari total konsumsi masyarakat.

Artinya, ketika kelompok ini mengalami tekanan keuangan, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh masing masing keluarga. Konsumsi nasional juga ikut terpengaruh.

Keluarga yang sebelumnya mampu menyisihkan uang mungkin mulai mengurangi tabungan. Keluarga yang tabungannya sudah tipis mungkin mulai menggunakan cicilan. Mereka yang cicilannya sudah cukup besar dapat kembali menghadapi persoalan yang sama ketika pendapatan berikutnya datang.

Di sinilah sebuah lingkaran dapat terbentuk.

Penghasilan datang. Sebagian digunakan untuk kebutuhan rutin. Sebagian lainnya digunakan membayar cicilan. Sisa uang menjadi lebih sedikit. Ketika muncul kebutuhan baru, tabungan yang tersedia mungkin tidak cukup. Jika tidak ada cadangan, pinjaman kembali menjadi pilihan.

Pada tahap tertentu, seseorang bukan lagi menggunakan utang untuk membeli sesuatu yang akan meningkatkan kemampuan ekonominya. Utang mulai digunakan untuk mempertahankan kehidupan yang sudah berjalan.

Perbedaan ini sangat penting.

Utang untuk membangun usaha memiliki karakter yang berbeda dengan utang untuk membayar makan sehari hari. Utang untuk membeli rumah memiliki tujuan yang berbeda dengan pinjaman yang digunakan untuk membayar pinjaman sebelumnya. Karena itu, melihat angka utang saja tidak cukup. Yang perlu diperhatikan adalah untuk apa utang tersebut digunakan dan apakah pendapatan seseorang masih memiliki ruang untuk membayarnya.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kemampuan masyarakat membangun kembali tabungan setelah mengalami tekanan ekonomi.

Tabungan sebenarnya merupakan bantalan. Ketika seseorang kehilangan pekerjaan, mengalami kebutuhan kesehatan, menghadapi perbaikan kendaraan atau mendapatkan kebutuhan keluarga yang tidak terduga, tabungan seharusnya mengambil peran sebagai penyangga.

Namun ketika tabungan sudah digunakan untuk membiayai kebutuhan rutin, fungsi tersebut hilang.

Seseorang yang tidak memiliki tabungan bukan berarti langsung berada dalam kondisi buruk. Tetapi ketahanan finansialnya menjadi lebih rendah. Satu kejadian tidak terduga dapat memaksanya mencari dana dari luar.

Pada kondisi seperti itu, utang bukan lagi sekadar pilihan finansial. Utang dapat berubah menjadi alat untuk menjaga kehidupan tetap berjalan.

Karena itu, ungkapan "makan tabungan" sebenarnya menggambarkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar menghabiskan uang simpanan. Ia menunjukkan bahwa pendapatan yang seharusnya dibagi antara kebutuhan hari ini dan persiapan masa depan semakin banyak terserap oleh kebutuhan saat ini.

Ketika tabungan mulai habis, masyarakat kemudian berhadapan dengan pilihan yang lebih berat. Mengurangi kebutuhan yang sebagian di antaranya sulit dikurangi atau mencari uang tambahan dengan konsekuensi harus membayar pada masa mendatang.

Di tengah kondisi tersebut, pertumbuhan layanan kredit menjadi fenomena yang perlu dilihat secara hati hati. Otoritas Jasa Keuangan mencatat pembiayaan pinjaman daring juga berada pada angka yang besar, sementara produk buy now pay later mengalami pertumbuhan tahunan yang tinggi. Data tersebut menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap sumber dana tambahan semakin terbuka.

Akses yang lebih mudah tentu bukan sesuatu yang otomatis buruk. Sistem keuangan memang dibangun agar masyarakat dan dunia usaha dapat memperoleh pembiayaan. Yang menjadi persoalan adalah ketika kemampuan memperoleh pinjaman tumbuh lebih cepat daripada kemampuan menghasilkan pendapatan dan membangun cadangan keuangan.

Pada titik itulah masyarakat bisa masuk ke situasi yang sangat berbeda. Bukan lagi menabung untuk membeli sesuatu, melainkan membeli sesuatu dengan uang yang belum diperoleh.

Bukan lagi menggunakan tabungan ketika ada kebutuhan mendadak, melainkan menggunakan pinjaman karena tabungan sudah tidak tersedia.

Bukan lagi mempersiapkan penghasilan masa depan, melainkan menggunakan sebagian penghasilan masa depan untuk membayar keputusan finansial masa lalu.

Fenomena ini membuat pembicaraan mengenai daya beli tidak cukup hanya melihat apakah masyarakat masih berbelanja. Masyarakat mungkin tetap membeli barang dan membayar kebutuhan, tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah dari mana uang tersebut berasal.

Jika konsumsi dibiayai oleh pendapatan yang sehat, kondisi ekonominya berbeda. Jika sebagian konsumsi mulai bergantung pada tabungan, bantalan masa depan berkurang. Jika kemudian konsumsi atau kebutuhan rutin mulai ditopang oleh pinjaman, sebagian pendapatan masa depan sudah lebih dahulu terikat.

Di sinilah ungkapan makan utang memperoleh maknanya.

Bukan berarti masyarakat Indonesia tiba tiba menjadi masyarakat yang gemar berutang. Lebih tepat jika dikatakan bahwa sebagian rumah tangga menghadapi situasi ketika ruang antara pendapatan, kebutuhan, tabungan dan cicilan menjadi semakin sempit.

Perubahan tersebut tidak terjadi dalam satu malam. Namun perkembangan pada 2024 dan 2025 memberikan sejumlah tanda yang membuat persoalan ini layak diperhatikan. Porsi cicilan dalam pendapatan rumah tangga meningkat dalam data Survei Konsumen Bank Indonesia, sementara produk kredit buy now pay later tumbuh dengan cepat menurut data Otoritas Jasa Keuangan. Pada saat yang sama, BPS menempatkan kelompok kelas menengah dan kelompok yang menuju kelas menengah sebagai penopang utama konsumsi nasional.

Maka persoalan sebenarnya mungkin bukan tentang apakah masyarakat Indonesia suka berutang.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah pendapatan masih memberikan cukup ruang bagi masyarakat untuk menyimpan uang setelah seluruh kebutuhan dibayar.

Sebab selama masih ada ruang untuk menabung, seseorang memiliki bantalan.

Ketika bantalan itu semakin tipis, risiko meningkat.

Dan ketika bantalan tersebut hilang sementara kebutuhan terus berjalan, utang akan selalu terlihat seperti jalan keluar yang paling dekat.

Jadi Intinya...

  • Ketika pendapatan tidak memberikan ruang yang cukup untuk menabung, kebutuhan hari ini perlahan dapat menghabiskan tabungan. Ketika tabungan habis, utang menjadi salah satu jalan untuk mempertahankan kehidupan.


  • Pertumbuhan cicilan dan layanan buy now pay later tidak dengan sendirinya membuktikan masyarakat sedang mengalami krisis utang. Namun pertumbuhan tersebut menjadi penting ketika dibaca bersama dengan semakin sempitnya ruang sebagian rumah tangga untuk menyimpan pendapatan.


  • Perubahan paling penting bukan sekadar dari menabung menjadi berutang, tetapi dari menggunakan uang yang sudah dimiliki untuk kebutuhan hari ini menjadi menggunakan penghasilan masa depan untuk membiayai kebutuhan hari ini.

#EkonomiIndonesia #DayaBeli #UtangRumahTangga #Tabungan #KelasMenengah #Opini

Kata kunci: tabungan, utang, daya beli, cicilan, kelas menengah, pendapatan

STOP
KEBAKARAN

Cegah Karhutla — Lindungi Hutan & Lahan PEDULI HUTAN

Waspada musim kemarau, cegah api sejak dini demi udara bersih dan masa depan bumi!

FAARSYAM

Komentar